TVRINews – Mina, Iran
Ketiadaan akuntabilitas dari Pentagon dan politisasi oleh Teheran meninggalkan keluarga korban dalam ketidakpastian setelah 120 hari berlalu.
Lebih dari empat bulan telah berlalu sejak sebuah serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari 100 anak.
Hingga kini, tragedi yang tercatat sebagai serangan paling mematikan dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran tersebut masih diselimuti tabir gelap tanpa pertanggungjawaban resmi.
Hingga Rabu 1 Juli 2026, pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengakui keterlibatan militer AS secara langsung atau merilis hasil investigasi Pentagon.
Padahal, menurut seorang pejabat AS yang mengetahui situasi tersebut, militer telah memiliki bukti bahwa lokasi yang dihantam adalah sebuah sekolah tak lama setelah insiden terjadi pada 28 Februari lalu.
“Saya tidak tahu apakah mereka akan pernah menyelesaikan masalah ini terkait siapa yang harus disalahkan, karena ada rudal beterbangan di mana-mana,” ujar Presiden Trump pekan lalu saat menanggapi pertanyaan mengenai insiden tersebut. “Saya tidak berpikir itu adalah kami.”
Sementara itu, pihak berwenang di Teheran memilih untuk mempolitisasi insiden tersebut demi narasi perang, yang menurut pengamat, justru menghambat upaya pencarian kebenaran bagi keluarga korban.
Kegagalan Prosedur Penargetan
Hasil investigasi mendalam yang dilakukan oleh berbagai lembaga independen menunjukkan bahwa kompleks sekolah tersebut memiliki sejarah sebagai fasilitas militer yang telah dialihfungsikan. Namun, kegagalan sistemik dalam proses peninjauan target di Pentagon diduga menjadi penyebab utama.
Menurut seorang mantan pejabat Pentagon yang enggan disebutkan namanya, serangan tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan kebijakan di era pemerintahan Trump yang memangkas staf untuk memitigasi risiko korban sipil.
Pemotongan anggaran di Civilian Protection Center of Excellence bahkan menyebabkan daftar lokasi yang dilindungi (no-strike lists) seperti sekolah dan rumah sakit tidak diperbarui secara memadai.
“Ketika saya bekerja di Pentagon, sudah menjadi rahasia umum bahwa daftar tersebut sudah tidak mutakhir,” ungkap Wes Bryant, mantan Kepala Cabang Penilaian Bahaya Sipil di kantor tersebut. Kutip AP News kamis 2 Juli 2026.
Pencarian Keadilan yang Terhenti
Organisasi riset konflik, Airwars, dalam laporannya baru-baru ini berhasil mengidentifikasi 157 korban tewas, di mana 123 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 13 tahun. Sisanya terdiri dari staf sekolah dan orang tua yang berada di lokasi saat evakuasi darurat berlangsung.
Keluarga korban kini terjebak dalam ruang hampa akuntabilitas. Di satu sisi, pemerintah Iran menggunakan foto-foto anak-anak tersebut sebagai alat propaganda, sementara di sisi lain, Pentagon melalui Komando Pusat (CENTCOM) masih menunda publikasi laporan resmi penyelidikan mereka.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa laporan tersebut akan dirilis “ketika waktu yang tepat tiba.” Pernyataan ini kontras dengan kecepatan respons militer AS dalam insiden serupa di masa lalu, seperti pada serangan di Kabul tahun 2021, di mana pertanggungjawaban disampaikan dalam waktu kurang dari satu bulan.
Hingga hari ini, deretan makam kecil yang seragam di pinggiran kota Minab menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi yang, meski telah terbukti secara teknis, masih menanti pengakuan resmi dari otoritas yang berkuasa.










