TVRINews, Jakarta
Komunitas Muslim di Jepang dilaporkan berkembang pesat, yang mendorong Dompet Dhuafa menginisiasi pembangunan Islamic Center di kawasan Matsudo, Chiba, Jepang. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi dengan Chiba Islamic Culture Center guna menghadirkan Masjid Al-Muttaqin sebagai sarana ibadah dan pusat edukasi permanen di Negeri Sakura.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi di Jepang, kehadiran sarana ibadah yang representatif kini menjadi kebutuhan mendesak bagi komunitas Muslim setempat. Bagi warga Muslim yang merupakan kelompok minoritas di sana, keberadaan masjid dinilai menjadi pondasi utama bagi keberlangsungan dakwah serta pembinaan generasi muda ke depan.
Di tengah-tengah kunjungan di Indonesia, pada Rabu 1 Juli 2026, Sensei Kyoichiro Sugimoto, seorang Dai dari Chiba Islamic Culture Center, menekankan urgensi ini mengingat kondisi demografis Jepang.

“Di Jepang, 99,9 persen penduduknya nonmuslim. Memiliki masjid atau Islamic Center tentu akan memiliki dampak yang sangat signifikan. Bukan hanya untuk salat, tetapi untuk dakwah, mendukung generasi muda Muslim dan para mualaf, karena mereka adalah pemimpin masa depan yang harus menjaga dan mengembangkan komunitas Muslim di Jepang untuk waktu yang lama,” jelas Sensei Sugimoto.
Ia bahkan mengibaratkan proyek ini dengan sejarah awal terbentuknya komunitas Muslim di masa Nabi.
“Saya menemukan ini seperti proyek percontohan pusat pertama kita. Pusat kota adalah masjid, kemudian menciptakan Kota Madinah. Itu adalah konsep dari Nabi Muhammad Saw. Untuk menciptakan komunitas, umat, maka masjid atau Islamic Center adalah pondasinya,” tambahnya.
Meski menghadapi tantangan, termasuk munculnya sentimen negatif di media sosial, Sensei Sugimoto tetap optimistis.
“Walaupun ada yang menciptakan rumor tak berdasar, Islamofobia, dan gerakan anti-Muslim. Tetap saja, ini adalah jalan dakwah, pasti ada tantangannya. Insyaallah, jika kita kuat dan bekerja sama, kita bisa mengatasinya,” tegasnya.
Pertumbuhan komunitas Muslim di Jepang saat ini memang terbilang masif hingga mencapai kisaran 420 ribu jiwa. Dari total populasi tersebut, fenomena menariknya menunjukkan bahwa lebih dari separuh atau sekitar 50 persen merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja atau menetap di sana.
Selain pembangunan fisik, diskusi ini juga menyoroti pentingnya keberlanjutan pendidikan bagi generasi muda Muslim. Purwati Kasmaja, istri dari Sugimoto, menekankan perlunya tempat edukasi agar komunitas Muslim tidak perlu selalu bergantung pada pengiriman anak-anak ke luar negeri.
“Kami sangat membutuhkan tempat edukasi. Kalau tidak ada, terpaksa kami mengirimkan anak-anak ini ke negara-negara Muslim. Mengapa tidak kita hadirkan kompetensi ke Jepang? Harapan kami ke depannya, ada ustaz-ustaz yang dikirim ke sana untuk merintis model pendidikan yang permanen,” ungkap Purwati Kasmaja.
Dompet Dhuafa menyambut visi ini sebagai upaya sinergis dalam menjawab tantangan dakwah global. Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan perwujudan dari kepercayaan masyarakat Indonesia dalam mendukung syiar Islam.
“Kegiatan ini tentu merupakan suatu kegiatan yang sangat menantang, butuh kolaborasi, butuh sinergi banyak pihak, termasuk individu-individu yang peduli untuk mendukung penyediaan sarana pendidikan Islam, kegiatan keagamaan, sarana ibadah, termasuk mengkampanyekan budaya-budaya Islam kepada masyarakat di Jepang,” ungkap Ahmad Juwaini.
Ahmad Juwaini juga menambahkan bahwa ke depan potensi kerja sama antarlembaga ini masih sangat terbuka luas di berbagai sektor.
“Harapannya, kedatangan Sensei Sugimoto di Dompet Dhuafa, baik sekarang dan nanti, dalam rangka melakukan kebaikan-kebaikan. Sebenarnya kita bisa melakukan banyak bentuk kerja sama yang lain selain pembangunan masjid. Minimal dalam konteks dakwah, kita bisa membuat beberapa kerjasama nanti kedepannya,” jelasnya.
Pembangunan masjid Al Muttaqin Chiba kini menjadi agenda prioritas seiring dengan pertumbuhan ekosistem Muslim di wilayah tersebut. Pihak Dompet Dhuafa pun mengetuk kepedulian publik untuk ikut serta menyukseskan program pengadaan fasilitas ibadah dan edukasi ini.
“Kami mengajak semua pihak, baik masyarakat maupun perusahaan, untuk turut membantu mewujudkan sarana peribadatan, syiar, serta pendidikan Islam bagi lingkungan di Jepang dengan ikut bersama-sama mendanai pembelian gedung tersebut,” pungkas Ahmad Juwaini.










