TVRINews, Caracas
Warga di wilayah terdampak melakukan pencarian mandiri di tengah kritisnya situasi evakuasi pascagempa besar yang melanda Venezuela.
Situasi di Venezuela kian mencekam menyusul dua gempa bumi beruntun berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang melanda negara tersebut pada Rabu, 24 Juni 2026 malam. Hingga Jumat 26 Juni 2026, jumlah korban tewas tercatat mencapai sedikitnya 920 orang, sementara lebih dari 51.000 orang dilaporkan hilang.
Di tengah situasi darurat ini, warga di wilayah terdampak parah, termasuk La Guaira, terpaksa melakukan upaya pencarian mandiri menggunakan peralatan seadanya. Mereka mengaku minim melihat tim penyelamat pemerintah di lapangan, kendati otoritas berulang kali memproyeksikan citra respons yang kuat.
Kondisi Kritis di La Guaira
La Guaira, yang terletak tepat di utara ibu kota Caracas, menjadi pusat kehancuran terburuk. Puing-puing bangunan beton yang rata dengan tanah membuat proses evakuasi menjadi sangat sulit.

(Petugas penyelamat menggendong Daniel Cordero setelah menariknya dari reruntuhan dua hari setelah gempa bumi melanda Catia la Mar, Venezuela. (Foto: AP News))
"Kami membuat seruan bantuan kepada pemerintah dan negara-negara di seluruh dunia. Masih ada orang yang hidup di sana," ujar Nazareth Jimenez, warga yang menunggu kabar nasib saudara dan kerabatnya yang terjebak di bawah reruntuhan, dikutip Sabtu, 27 Juni 2026.
Hingga Jumat malam, otoritas Venezuela mengambil kebijakan kontroversial dengan memblokir akses masuk ke La Guaira. Pemerintah beralasan langkah ini diambil untuk mengatasi kekacauan lalu lintas yang menghambat upaya pencarian. Namun, kebijakan ini memicu kebingungan bagi keluarga korban, karena izin resmi untuk masuk ke area tersebut masih belum jelas prosedurnya.
Bantuan Internasional Berdatangan
Pemerintah Venezuela, melalui Penjabat Presiden Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa mereka sedang melakukan respons penuh di "jam-jam kritis" ini. Ia menyambut hangat bantuan kemanusiaan serta tim penyelamat dari berbagai penjuru dunia yang mulai berdatangan.

(Anggota organisasi keagamaan membagikan makanan kepada orang-orang yang terkena dampak dua hari setelah gempa bumi melanda La Guaira, Venezuela. (Foto: AP News))
Presiden Majelis Nasional, Jorge Rodríguez, mengakui besarnya skala bencana ini. "Setiap orang yang diselamatkan adalah keajaiban. Kami tidak akan menyembunyikan apa pun tentang besarnya tragedi ini," ungkapnya.
Di lapangan, pasukan pemerintah mulai mendistribusikan logistik berupa makanan dan air kepada para penyintas. Meski demikian, banyak warga menilai bantuan tersebut masih jauh dari mencukupi untuk menutupi kebutuhan ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal.
Tantangan Politik dan Kemanusiaan
Bencana ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Penjabat Presiden Delcy Rodríguez yang menjabat sejak Januari lalu, pasca penyingkiran Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat. Krisis kemanusiaan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi negara yang telah mengalami kekacauan selama lebih dari satu dekade.
Saat ini, tim penyelamat internasional dan lokal berpacu dengan waktu. Lembaga bantuan menetapkan jendela 48 hingga 72 jam pertama sebagai waktu kritis untuk menemukan penyintas dalam kondisi hidup.
Mengenai data orang hilang yang mencapai puluhan ribu, pemerintah dan pihak independen masih melakukan verifikasi. Angka tersebut kemungkinan akan terus berubah seiring dengan pulihnya komunikasi seluler di zona bencana serta pembersihan data duplikat dari laporan keluarga.










