TVRINews – El-Obeid
Ribuan warga sipil terancam terjebak perang di El-Obeid.
Konflik berkepanjangan di Sudan kini memasuki fase kritis baru. Perhatian dunia, yang sebelumnya terpusat pada Khartoum dan Darfur, kini beralih ke El-Obeid, ibu kota negara bagian Kordofan Utara.
Kota strategis ini telah menjadi titik fokus pertempuran terbaru antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Laporan dari Save the Children Selasa 7 Juli 2026 mencatat bahwa lebih dari 11.000 orang, termasuk 5.500 anak-anak, telah melarikan diri akibat peningkatan kekerasan dalam dua pekan terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa hingga 500.000 warga sipil berisiko tinggi jika intensitas pertempuran terus meningkat.
Francesco Lanino, Wakil Direktur Save the Children di Sudan, menekankan dampak mendalam bagi generasi muda di wilayah tersebut. "Bagi anak-anak, pengungsian bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Hal ini sering kali berarti hilangnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, dan jaringan pendukung yang memberikan rasa aman," ujar Lanino.
Posisi Strategis di Tengah Pusaran Konflik
El-Obeid memegang peranan krusial sebagai pusat komersial dan logistik utama. Terletak sekitar 360 kilometer di barat daya Khartoum, kota ini merupakan persimpangan vital yang menghubungkan Sudan bagian tengah dengan Darfur dan wilayah selatan.
Bagi SAF, menguasai El-Obeid adalah kunci untuk mempertahankan jalur pasokan ke wilayah barat. Sementara bagi RSF, menekan kota ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi militer mereka di kawasan tersebut.
Analis militer menilai, kontrol atas kota ini akan sangat menentukan dinamika pergerakan di koridor penting yang menghubungkan wilayah-wilayah Sudan yang terdampak perang.
Bayang-Bayang Tragedi El-Fasher
Para pejabat PBB dan organisasi kemanusiaan mulai menarik perbandingan antara situasi di El-Obeid dengan El-Fasher di Darfur Utara. Di El-Fasher, pengepungan selama berbulan-bulan telah melumpuhkan infrastruktur dasar dan memutus akses bantuan kemanusiaan, menciptakan krisis kelaparan dan penyakit yang parah.
Kekhawatiran utama saat ini adalah jika El-Obeid mengikuti jalur serupa, di mana warga sipil terjebak dalam pertempuran urban yang berkepanjangan. Penggunaan pesawat nirawak (drone) dalam serangan terhadap infrastruktur vital seperti depo bahan bakar, jaringan listrik, dan fasilitas air semakin memperburuk kondisi penduduk yang sudah terpuruk.
Seruan Internasional untuk Bertindak
Menanggapi situasi yang kian memburuk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, mengeluarkan peringatan keras pekan lalu.
"Tanda-tanda dari El-Obeid jelas dan tidak dapat disalahartikan: bencana hak asasi manusia lainnya sedang terjadi di Sudan," tegas Turk. "Ini bukan latihan. Ini adalah peringatan merah yang harus segera mendapat perhatian dari kepala negara dan pemerintahan di seluruh dunia." Kutip Al jazeera.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengumumkan rencana ofensif skala penuh, namun penumpukan militer yang terus berlangsung di sekitar kota menciptakan ketidakpastian yang mencekam.
Masa depan ratusan ribu warga sipil di Kordofan kini bergantung pada apakah diplomasi mampu meredam permusuhan, atau apakah El-Obeid akan menjadi medan tempur urban berikutnya dalam perang saudara Sudan yang tidak kunjung usai.










