TVRINews - Guangxi, China
Otoritas China tingkatkan status darurat setelah puluhan ribu warga dievakuasi akibat banjir ekstrem di wilayah Guangxi.
Wilayah selatan China kini berada dalam status siaga tinggi setelah Topan Maysak memicu banjir bandang yang mengakibatkan dua orang dilaporkan tewas.
Fenomena cuaca ekstrem ini memaksa evakuasi massal bagi puluhan ribu warga di tengah ancaman kerusakan infrastruktur yang meluas.
Berdasarkan laporan otoritas setempat pada Senin 6 Juli 1026, badai yang sebelumnya menyapu Hainan dan Vietnam tersebut telah melumpuhkan aktivitas di Nanning, ibu kota wilayah Guangxi.
Banjir dilaporkan merusak sistem pertahanan air, dengan tiga bendungan terancam jebol akibat curah hujan yang tidak henti-hentinya.
“Sekitar 55.000 orang telah terdampak oleh banjir di Nanning, dan air terus meluap melewati batas keamanan di tiga reservoir,” ujar Wakil Wali Kota Nanning, Wei Jiang.
Ia menambahkan bahwa upaya penyelamatan kini menghadapi tantangan berat akibat intensitas hujan yang masih berada pada level sangat tinggi.
Data dari Kementerian Sumber Daya Air mencatat bahwa ketinggian air di stasiun hidrologi Guigang telah mencapai 42 meter pada Senin siang.
Situasi di lapangan menggambarkan kondisi kritis; rekaman visual menunjukkan arus air deras menyapu kendaraan di jalan raya dan merendam kawasan permukiman di sepanjang distrik terdampak.
Hingga saat ini, sebanyak 48.000 warga telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Pemerintah pusat pun telah meningkatkan status respons darurat banjir ke level tertinggi guna mengoordinasikan bantuan logistik dan pemulihan di lapangan.
Ancaman Cuaca di Masa Depan
Di sisi lain, para ahli meteorologi memperingatkan bahwa ancaman badai belum usai.
China kini memantau pergerakan Super Topan Bavi yang bergerak melintasi Samudra Pasifik.
Prediksi cuaca menunjukkan bahwa sistem badai baru tersebut berpotensi membawa angin kencang dan hujan lebat ke wilayah timur China mulai Kamis mendatang.
Para analis lingkungan menyoroti bahwa frekuensi cuaca ekstrem ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Banjir yang terjadi secara berulang setiap tahun dinilai berisiko mengganggu rantai pasokan industri serta mengancam ketahanan pangan akibat kerusakan lahan pertanian.
Sejalan dengan narasi yang dirilis oleh kantor berita Xinhua, kawasan seperti Guizhou dan Hunan juga diminta untuk tetap waspada. Ketiga wilayah tersebut
mencakup populasi lebih dari 150 juta jiwa, yang kini harus berhadapan dengan potensi curah hujan tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak nyata dari krisis iklim terhadap infrastruktur perkotaan di Asia, di mana kerugian komersial akibat bencana cuaca diprediksi mencapai puluhan miliar dolar setiap tahunnya jika mitigasi jangka panjang tidak segera diperkuat.










