TVRINews – Seoul
Analis menilai langkah pendekatan ulang Amerika Serikat terhadap Korea Utara digerakkan oleh sinyal politik strategis yang ditujukan bagi Pyongyang maupun Seoul
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pujian kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sekaligus melayangkan kritik terhadap sekutu utamanya, Korea Selatan.
Kebijakan ini dinilai gagal membantu Washington dalam menghadapi konflik dengan Iran, sekaligus menghidupkan kembali isu diplomatik paling kontroversial dari masa jabatan pertamanya.
Trump menyatakan bahwa Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah merespons pendekatan terbarunya dengan pertukaran pesan yang sangat positif. Pernyataan tersebut disampaikan hanya sehari setelah ia memerintahkan Pentagon untuk mengurangi skala latihan militer gabungan dengan Korea Selatan, yang sebelumnya dirancang sebagai persiapan menghadapi potensi konflik dengan Pyongyang.
Menurut laporan yang dikutip AFP, Trump dilaporkan tengah mendorong para pembantunya untuk mengatur pertemuan kembali dengan Kim Jong Un secepatnya pada musim gugur ini. Rencana tersebut bergulir di tengah kebuntuan penyelesaian konflik di Iran serta belum terwujudnya janji kampanye untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Para analis Internasional berpendapat bahwa pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara tersebut dapat menjadi pencapaian politik yang signifikan bagi Washington.
Kendati demikian, upaya merangkul kembali Pyongyang juga diyakini berkaitan erat dengan upaya mendulang daya tawar terhadap Seoul, yang mencerminkan pendekatan diplomasi transaksional khas pemerintahan Trump.
"Trump kemungkinan ingin menekan Korea Selatan menyusul keengganan Seoul untuk bekerja sama dengan AS dalam konflik Iran, serta lambatnya progres investasi Korea Selatan di Amerika Serikat," ujar Yong-Chool Ha, Direktur Pusat Studi Korea di Henry Jackson School of International Studies, Washington, kepada Al Jazeera.
"Langkah ini dapat dilihat sebagai bentuk diplomasi timbal balik atau tit-for-tat, terlepas dari aliansi yang masih terjalin di antara kedua negara," imbuhnya.
Dinamika Hubungan dan Kepentingan Strategis
Hubungan Washington dan Pyongyang sempat Memanas ketika Trump melontarkan ancaman keras pada 2017 menyusul perkembangan hulu ledak nuklir Korea Utara. Pertemuan tatap muka bersejarah kemudian terselenggara di Singapura pada 2018, diikuti sejumlah pertemuan lanjutan di Hanoi dan Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 2019.
Kendati pertemuan-pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan denuklirisasi yang permanen, kapasitas misil dan nuklir Korea Utara terus berkembang, termasuk penguatan aliansi militer dengan Rusia.
Di sisi lain, para pengamat menilai bahwa pengurangan latihan militer gabungan dengan Seoul mencerminkan pergeseran prioritas strategis Washington di tengah keterbatasan sumber daya militer global.
Rachel Minyoung Lee, peneliti senior untuk Program Korea di Stimson Center dan 38 North, berpendapat bahwa pengurangan latihan militer tersebut dapat dimanfaatkan sebagai instrumen tekanan. Tujuannya adalah mempercepat realisasi investasi Korea Selatan di Amerika Serikat sekaligus membuka jalan bagi peningkatan kontribusi biaya pertahanan bersama (cost-sharing).
"Kurangnya langkah konkrit dari pihak Korea Selatan untuk berinvestasi di AS tampaknya menjadi sumber frustrasi besar bagi Trump," jelas Minyoung Lee.
Meski demikian, para pengamat mencatat bahwa pemulihan hubungan penuh masih memerlukan jalan panjang. Pyongyang dinilai masih menuntut pengakuan resmi atas status nuklirnya sebagai prasyarat utama sebelum membangun kembali dialog yang berkelanjutan dengan Washington.










