TVRINews – Kyiv
Ratusan pesawat nirawak serang ibu kota Rusia, sementara rudal hancurkan permukiman warga Kharkiv dan tewaskan belasan jiwa.
Intensitas konflik antara Ukraina dan Rusia kembali memuncak melalui serangkaian serangan udara jarak jauh yang saling membalas, menargetkan infrastruktur militer serta wilayah sipil di kedua belah pihak.
Pasukan Ukraina meluncurkan hampir 800 drone ke wilayah Rusia dalam salah satu serangan udara terbesarnya sejak awal invasi empat tahun lalu. Serangan tersebut terjadi hanya dua hari setelah gelombang serupa dilancarkan, menurut keterangan pejabat berwenang pada Selasa 18 Agustus 2026.
Di sisi lain, serangan rudal Rusia yang menghantam sebuah desa di wilayah Kharkiv, Ukraina Timur Laut, menelan setidaknya 10 korban jiwa dan menyebabkan 17 warga lainnya terluka. Ledakan tersebut dilaporkan menghancurkan sejumlah rumah penduduk, fasilitas publik, dan kendaraan.
Para analis menilai bahwa pertempuran sepanjang garis depan sejauh 1.250 kilometer di Ukraina timur dan selatan kini terkunci dalam kebuntuan. Penggunaan drone skala besar dan robot darat telah membatasi manuver pasukan, sehingga tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai oleh kedua belah pihak di medan perang.
Upaya Menekan Negosiasi
Selama setahun terakhir, Ukraina secara agresif mengembangkan dan mengerahkan drone jarak jauh buatan domestik untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia. Strategi ini bertujuan untuk memberikan dampak langsung dari perang kepada publik Rusia, dengan harapan dapat menekan Presiden Vladimir Putin agar bersedia membuka negosiasi perdamaian. Namun, sejauh ini, Putin belum menunjukkan sinyal kesiapan untuk menghentikan invasi.
Kementerian Pertahanan di Moskow menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 791 drone Ukraina yang terbang di atas sejumlah wilayah, termasuk Krimea yang dicaplok, serta perairan Laut Hitam dan Laut Azov. Berdasarkan data Associated Press, ini merupakan serangan drone terbesar kedua sejak Januari 2025.
Walikota Moskow, Sergei Sobyanin, melaporkan bahwa lebih dari 600 drone mengarah ke wilayah Moskow, di mana 180 di antaranya berhasil ditembak jatuh. Pejabat setempat tidak melaporkan adanya korban jiwa atau kerusakan infrastruktur vital, meski insiden tersebut memicu kebakaran di gudang Wildberries, peritel daring terbesar di Rusia. Wildberries menyatakan fasilitasnya hanya mengalami "kerusakan yang tidak signifikan".
Respon Media dan Diplomatik
Liputan mengenai serangan ini di media pemerintah Rusia cenderung terbatas. Stasiun televisi utama, seperti Russia 1 dan Channel One, tidak menyinggung serangan tersebut dalam buletin berita pagi. Namun, kantor berita negara RIA Novosti menempatkan insiden ini sebagai salah satu berita utama, menyebutnya sebagai "salah satu serangan berskala besar ke Moskow sejak awal musim panas".
Terkait serangan di Kharkiv, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam tindakan tersebut sebagai "serangan brutal". Menurut Oleh Syniehubov, kepala administrasi militer regional Kharkiv, serangan tersebut merusak 10 rumah, sebuah kafe, kantor pos, toko, serta setidaknya tujuh kendaraan.
"Kami pasti akan merespons serangan Rusia ini," ujar Zelenskyy melalui media sosial.
Di sisi lain, keterlibatan sekutu Barat kembali menjadi sorotan. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menegaskan bahwa London akan tetap mendukung Ukraina, meskipun Moskow menuding penggunaan drone buatan Inggris dalam serangan ke wilayah Rusia akan membawa konsekuensi yang tidak ditentukan.
"Kami memberikan dukungan agar Ukraina dapat mempertahankan diri, dan itu telah menjadi posisi Inggris sepanjang konflik ini di bawah perdana menteri sebelumnya. Hal itu tetap berlaku di bawah kepemimpinan saya," kata Burnham.
Pernyataan ini muncul setelah laporan surat kabar The Sunday Times menyebutkan bahwa dua perusahaan Inggris memproduksi drone yang digunakan Ukraina. Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melalui televisi pemerintah Rusia, menegaskan bahwa Moskow memiliki hak untuk memandang keterlibatan Inggris dalam serangan di wilayah Rusia sebagai "partisipasi dalam perang, dengan segala konsekuensi yang menyertainya."










