TVRINews – Jenewa
Krisis Kesehatan Kongo Memburuk, WHO Desak Bantuan Internasional
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) masih berstatus sebagai darurat kesehatan global. Peringatan ini dikeluarkan setelah total infeksi resmi melampaui angka 5.000 kasus, seiring upaya petugas medis yang terus berjibaku memutus rantai penularan di lapangan.
Keputusan tersebut diambil usai sidang darurat yang digelar pada hari Selasa 18 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan kepada komunitas internasional agar segera memberikan uluran tangan demi membendung eskalasi wabah yang sejauh ini telah merenggut lebih dari 2.320 jiwa.
"Kita harus jujur: epidemi ini masih jauh dari terkendali," ujar Tedros di hadapan para peserta rapat darurat. "Wabah ini memiliki keunggulan awal yang jauh, dan kita masih terus berupaya mengejarnya."
Berdasarkan data WHO wabah kali ini tercatat sebagai kejadian luar biasa yang ketujuh belas di DRC. Peristiwa tersebut sekaligus menjadikannya sebagai epidemi Ebola paling mematikan di wilayah itu, melampaui jumlah korban jiwa pada periode 2018 hingga 2020 yang merenggut 2.299 nyawa.
Terdapat beberapa faktor yang memicu kekhawatiran mendalam di kalangan otoritas kesehatan internasional. Salah satu tantangan terbesar adalah ketiadaan vaksin atau pengobatan resmi yang disetujui untuk jenis virus Ebola galur Bundibugyo ini.
Kendala penanganan di lapangan semakin berlapis akibat situasi konflik bersenjata yang masih membayangi wilayah kaya mineral di DRC. Selain itu, hambatan non-teknis seperti disinformasi, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan, serta faktor tradisi kultural turut memperlambat gerak tim medis.
Tedros mengingatkan bahwa penyebaran wabah berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebaran lokasi kematian mengindikasikan bahwa masih banyak rantai penularan tersembunyi yang belum terdeteksi. Epidemi ini dipastikan belum akan berakhir sebelum seluruh rantai penularan tersebut ditemukan dan diputus secara tuntas.
Sebagai bagian dari strategi adaptif, petugas medis WHO, Thierno Balde, menjelaskan bahwa para pengendara sepeda motor kini menjadi fokus utama dalam strategi penanggulangan. Peran mereka sangat krusial mengingat mobilitas tinggi dalam urusan transportasi, termasuk pengangkutan pasien dan jenazah.
"Fasilitas cuci tangan dan cairan disinfektan telah disediakan, namun target baru kami adalah merekrut mereka sebagai petugas pengawasan dan respons," tutur Dr. Balde. Pendekatan ini merupakan bagian dari langkah masif organisasi untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam membasmi penyakit tersebut.
Wabah ini secara resmi diumumkan ke publik pada 17 Mei. Kendati demikian, hasil analisis sekuens genetik pada sampel menunjukkan bahwa virus tersebut telah mulai menyebar tiga bulan lebih awal, tepatnya sejak bulan Februari.
Di sisi lain, secercah harapan mulai muncul dari ranah riset global. Relawan pertama yang menerima suntikan vaksin eksperimental untuk galur Ebola ini telah mendapatkannya di Inggris pada bulan lalu.
Ratusan ribu dosis vaksin hasil pengembangan para ilmuwan Universitas Oxford tersebut kini telah selesai diproduksi di India dan siap didistribusikan untuk penggunaan darurat apabila seluruh rangkaian uji klinis dinyatakan berhasil.










