TVRINews – Tokyo, Jepang
Penampilan Tari Saman dan Padupa menjadi primadona dalam festival tahunan terbesar di Fukuoka.
Komunitas warga Indonesia di Jepang kembali memperkuat penetrasi budaya di kancah internasional melalui partisipasi dalam Festival Hakata Dontaku 2026.
Dalam gelaran tahunan terbesar di Fukuoka tersebut, ragam kesenian tradisional Indonesia hadir sebagai simbol diplomasi budaya dan persahabatan antarnegara.

Didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, delegasi yang terdiri dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Fukuoka dan berbagai elemen masyarakat menampilkan atraksi ikonik seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Padupa asal Makassar, hingga pertunjukan Angklung.
Kehadiran elemen budaya ini menjadi magnet bagi sekitar dua juta pengunjung yang memadati jalanan utama Fukuoka selama masa libur Golden Week Akhir Pekan kemarin.
Diplomasi Budaya Melalui Persahabatan
Puncak festival ditandai dengan parade kolosal sepanjang 1,27 kilometer di Jalan Meiji-dori. Indonesia menjadi salah satu representasi komunitas asing yang mendapatkan sambutan paling meriah dari warga lokal maupun wisatawan internasional.
Counsellor Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Tokyo, Iqbal Mohammad Amrullah, menegaskan bahwa partisipasi ini melampaui sekadar pertunjukan seni.
Menurutnya, keragaman identitas Indonesia merupakan instrumen penting untuk menjalin komunikasi dengan publik Jepang.

"Festival Hakata Dontaku adalah perayaan persahabatan Indonesia dan Jepang. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan budaya, kami memiliki banyak cara untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada rekan-rekan di Jepang," ujar Iqbal saat memberikan sambutan di tengah kemeriahan festival.
Ia juga menambahkan undangan bagi warga Fukuoka untuk menghadiri Festival Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Dedikasi Komunitas dan Pelajar
Bagi para mahasiswa Indonesia di Kyushu University, festival ini menjadi wadah aktualisasi identitas nasional di tengah kesibukan akademik.
Persiapan matang dilakukan untuk memastikan kualitas performa yang mampu bersaing di panggung internasional.

"Kami berlatih rutin seminggu sekali. Ada rasa bangga yang luar biasa bisa membawakan budaya Aceh di hadapan publik Jepang," ungkap Kinaya Aisha Naghia Halyda, mahasiswi Kyushu University yang turut tampil dalam kelompok Tari Saman.
Senada dengan itu, Ketua PPI Fukuoka, Asyraflie, mengapresiasi kolaborasi strategis dengan pihak Kedutaan. Ia menilai ruang promosi seperti ini krusial agar kesenian Indonesia semakin dikenal luas dan memiliki posisi tawar di mata warga lokal.
Konsolidasi Warga di Perantauan
Selain aspek promosi budaya, momentum festival ini dimanfaatkan oleh KBRI Tokyo untuk melakukan konsolidasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan Indonesia di Fukuoka, mulai dari organisasi keagamaan hingga aliansi ilmuwan.
Pertemuan lintas komunitas tersebut bertujuan untuk menyatukan visi dalam mempromosikan citra positif Indonesia.
Koordinasi ini meliputi komitmen kolektif untuk menjaga perilaku santun dan ketaatan hukum selama bermukim di Jepang, sekaligus memastikan adanya sistem pendukung antar-warga dalam menghadapi tantangan kehidupan di luar negeri.
Langkah diplomasi akar rumput ini diharapkan terus menjadi jembatan penghubung yang mempererat relasi bilateral Indonesia-Jepang di tingkat masyarakat (people-to-people contact).










