TVRINews – Washington DC
Teheran Tengah Meninjau Proposal AS Guna Mengakhiri Konflik dan Blokade Maritim
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan optimismenya terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran guna mengakhiri eskalasi konflik yang tengah berlangsung.
Hal ini menyusul langkah pemerintah Iran yang saat ini tengah melakukan peninjauan mendalam terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Washington.
"Mereka ingin mencapai kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat konstruktif selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kesepakatan itu terwujud," ujar Presiden Trump kepada awak media di Oval Office pada hari Rabu 6 Mei 2026 waktu setempat.
Pernyataan ini menandakan perubahan nada yang signifikan dari pernyataan Trump sebelumnya yang cenderung pesimistis.
Meski demikian, sejumlah isu krusial seperti program nuklir Teheran dan kontrol atas Selat Hormuz tetap menjadi hambatan utama dalam perundingan yang dimediasi oleh pihak internasional tersebut.
Diplomasi di Ambang Kepastian
Laporan dari sumber diplomatik di Pakistan menyebutkan bahwa kedua belah pihak sedang mendekati kesepakatan mengenai sebuah memorandum satu halaman yang secara resmi akan mengakhiri konflik.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi diskusi teknis terkait pembukaan blokade pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi AS, serta pembatasan aktivitas nuklir Iran.
Namun, reaksi dari internal Iran menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menggambarkan draf tersebut belum merepresentasikan realitas di lapangan.
"Pihak Amerika tidak akan mendapatkan apa pun dalam sebuah perang di mana mereka sebenarnya kalah, sesuatu yang tidak bisa mereka peroleh dalam negosiasi tatap muka," tegas Rezaei melalui saluran media sosialnya.
Respons Pasar Global
Kabar mengenai kemajuan diplomasi ini seketika meredakan ketegangan di pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan sempat merosot hingga 11 persen ke level $98 per barel, sebelum akhirnya stabil di atas angka $100.
Investor menyambut baik potensi diakhirinya gangguan pasokan energi yang telah mengguncang ekonomi dunia sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu.
Di sisi lain, sekutu dekat AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menekankan posisi keras terkait persyaratan nuklir.
Netanyahu menyatakan telah bersepakat dengan Trump bahwa seluruh cadangan uranium yang diperkaya harus dikeluarkan dari wilayah Iran demi mencegah pengembangan senjata nuklir sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Teheran.
Jalur Perundingan 30 Hari
Jika nota kesepahaman ini ditandatangani, proses akan berlanjut ke tahap negosiasi mendetail selama 30 hari. Tim negosiasi Amerika Serikat dilaporkan dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Isi Perjanjian Yang akan disepakatin:
• Pengakhiran blokade maritim timbal balik di Selat Hormuz.
• Pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
• Pemberlakuan moratorium pengayaan uranium Iran.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Iran melalui kantor berita ISNA mengonfirmasi bahwa pihaknya akan segera memberikan jawaban resmi terkait proposal tersebut setelah seluruh poin substansial selesai dikaji.










