TVRINews – Beirut
Serangan Udara Pertama di Ibu Kota Lebanon Sejak Gencatan Senjata April Berisiko Meruntuhkan Stabilitas Kawasan
Eskalasi ketegangan kembali menyelimuti Lebanon setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut pada Kamis 7 Mei 2026.
Operasi ini menandai serangan perdana di wilayah padat penduduk tersebut sejak kesepakatan gencatan senjata mulai diberlakukan pada 17 April lalu.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa jet tempur Israel menyasar distrik Ghobeiri, sebuah kawasan yang didominasi komunitas Syiah.
Ledakan dahsyat tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif di sekitar lokasi kejadian.
Klaim Eliminasi Komandan Radwan
Pihak militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil menargetkan Malek Balou, yang diidentifikasi sebagai komandan utama dalam Pasukan Radwan, unit elite milik Hezbollah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi keterlibatan langsungnya dalam pengambilan keputusan tersebut.
Melalui pernyataan resmi di kanal Telegram, Netanyahu menegaskan bahwa dirinya bersama Menteri Pertahanan Israel Katz telah menginstruksikan tentara untuk bergerak secara presisi.
"Teroris Radwan bertanggung jawab atas penembakan ke permukiman Israel dan melukai prajurit kami. Tidak ada teroris yang memiliki kekebalan tangan panjang Israel akan menjangkau setiap musuh dan pembunuh," tegas Netanyahu dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari janji pemerintah untuk memulihkan keamanan bagi warga di wilayah utara Israel.
Hingga naskah ini diturunkan, pihak Hezbollah belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim kematian komandan mereka.
Retaknya Keheningan di Beirut
Sejak gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat dimulai pada pertengahan April, Beirut sebenarnya berada dalam fase "ketenangan yang rapuh".
Koresponden internasional melaporkan bahwa banyak warga telah kembali ke pinggiran selatan dan memenuhi jalanan kota sebelum serangan mendadak ini terjadi.
"Ini adalah serangan pertama di pinggiran selatan ibu kota sejak 9 April," ujar Obaida Hitto dari Al Jazeera. Menurutnya, selama ini terdapat semacam 'kesepakatan tak tertulis' bahwa Beirut tidak akan menjadi sasaran selama gencatan senjata berlangsung, meskipun Israel tetap mempertahankan hak untuk menyerang wilayah lain yang dianggap mengancam keamanan nasional mereka.
Pelanggaran Gencatan Senjata yang Berulang
Meskipun status gencatan senjata secara formal masih berlaku, realita di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.
Baik Israel maupun Hezbollah terus saling lempar tuduhan atas pelanggaran kesepakatan.
• *Dampak di Lebanon Timur:* Serangan udara Israel di Lembah Bekaa dilaporkan menewaskan empat orang pada hari Rabu.
• Aktivitas di Selatan: Militer Israel terus menggempur titik-titik di Lebanon selatan setelah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi penduduk di belasan kota.
• Balasan Hezbollah : Kelompok tersebut mengklaim bertanggung jawab atas beberapa operasi yang menargetkan pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah Israel utara.
Data menunjukkan bahwa konflik ini telah memakan korban jiwa yang sangat besar. Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.700 orang, termasuk puluhan korban yang jatuh setelah gencatan senjata 17 April dimulai.
Di sisi lain, militer Israel melaporkan kehilangan 17 tentara dan satu kontraktor sipil dalam rangkaian pertempuran ini.
Gempuran terbaru di jantung Beirut ini kini menimbulkan pertanyaan besar bagi komunitas internasional: apakah kerangka gencatan senjata yang diprakarsai Washington masih memiliki kekuatan untuk mencegah perang terbuka yang lebih luas?










