Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Maroko baru saja mengalami gempa bumi terburuk dalam lebih dari enam dekade. Sementara itu, diketahui bahwa pada hari Minggu tim pencarian masih bekerja keras untuk menemukan yang hilang, dan dikhawatirkan jumlah korban tewas yang saat ini sudah mencapai lebih dari 2.100 orang akan terus bertambah.
Gempa bumi dengan kekuatan 6,8 magnitudo mengguncang Maroko pada Jumat malam yang lalu, mengakibatkan banyak orang terpaksa menghabiskan malam ketiga mereka di luar ruangan setelah rumah-rumah mereka runtuh.
Ribuan orang yang selamat dari gempa bumi ini sekarang berjuang untuk mencari makanan, air, dan tempat perlindungan.
Terdapat banyak warga, seperti Yassin Noumghar yang berusia 36 tahun, mengeluhkan kekurangan air, makanan, dan listrik, serta minimnya bantuan yang diberikan oleh pemerintah.
"Kami kehilangan segalanya, kami kehilangan seluruh rumah. Kami hanya ingin pemerintah kami membantu kami," kata Noumghar dalam keterangan yang dikutip dari Reuters, Senin, 11 September 2023.
Selain itu, seorang pengungsi, Hussein Adnaie, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa masih ada orang yang terkubur di bawah reruntuhan.
Baca juga: Lebih 2000 Orang Tewas Akibat Gempa Maroko
"Mereka tidak mendapatkan penyelamatan yang mereka butuhkan, jadi mereka meninggal. Saya menyelamatkan anak-anak saya dan mencoba mendapatkan selimut dan pakaian untuk mereka dari rumah yang hancur," kata Adnaie dalam keterangan yang dikutip dari Reuters, Senin, 11 September 2023.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pekerja bantuan adalah mencapai desa-desa yang paling terdampak, terutama di Pegunungan Atlas Tinggi, daerah pegunungan yang kasar dan sering terpencil, di mana banyak rumah hancur akibat gempa ini.
Di desa Moulay Brahim, terletak 40 km di selatan Marrakech, warga menceritakan kisah menyedihkan tentang bagaimana mereka menggali mayat dari puing-puing bangunan menggunakan tangan kosong. Di bukit yang menghadap desa, penduduk setempat mengadakan pemakaman seorang wanita berusia 45 tahun yang meninggal bersama dengan anak lelakinya yang berusia 18 tahun. Suara tangisan wanita itu menggema saat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Pemerintah Maroko telah mengumumkan pendirian dana bantuan bagi korban gempa bumi dan meningkatkan upaya tim pencarian dan penyelamatan. Mereka juga menyediakan air minum dan mendistribusikan makanan, tenda, serta selimut. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia, lebih dari 300.000 orang terdampak oleh bencana ini.
Dalam upaya penyelamatan yang masih berlanjut, tim pencarian berusaha keras untuk menemukan korban yang mungkin masih selamat di bawah reruntuhan, meskipun banyak rumah yang runtuh akibat gempa ini. Gempa ini merupakan yang terburuk di Maroko sejak tahun 1960, ketika diperkirakan setidaknya 12.000 orang tewas.
Pemerintah juga telah mendirikan kamp dengan tenda-tenda untuk para pengungsi, mengingat sebagian besar toko rusak atau tutup. Kondisi ini membuat penduduk kesulitan mendapatkan makanan dan perlengkapan. Dengan banyaknya kerusakan yang terjadi, warga juga takut masuk ke dalam toko-toko yang masih berdiri karena takut atapnya akan runtuh.
Editor: Rina Hapsari
