TVRINews – London
Menteri Dalam Negeri dan Puluhan Anggota Parlemen Tuntut Jadwal Pengunduran Diri Perdana Menteri
Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menghadapi krisis kepemimpinan yang eskalatif setelah sejumlah menteri kabinet senior dan puluhan anggota parlemen dari Partai Buruh mendesaknya untuk segera menetapkan jadwal pengunduran diri.
Ketegangan di internal pemerintahan mencapai puncaknya pada Selasa pagi, menyusul pengunduran diri massal para pembantu menteri (Parliamentary Private Secretaries) dan meningkatnya jumlah desakan publik agar Starmer meletakkan jabatannya.
Pemberontakan dari Dalam Kabinet
Menteri Dalam Negeri, Shabana Mahmood, dilaporkan menjadi salah satu tokoh kunci di jajaran kabinet yang meminta Starmer memberikan kepastian kapan ia akan mundur.
Meski Mahmood saat ini masih menjadi suara minoritas di tingkat menteri, gelombang ketidakpuasan telah merambat ke struktur bawah pemerintahan.
Tercatat enam asisten menteri resmi mengundurkan diri atau dicopot oleh Downing Street setelah mereka secara terbuka menuntut suksesi kepemimpinan.
Di tingkat parlemen, jumlah anggota Partai Buruh (MP) yang mendesak Starmer untuk mundur telah mencapai 72 orang hingga Selasa dini hari.
Kehilangan Kepercayaan Publik
Mundurnya Joe Morris, asisten menteri untuk Menteri Kesehatan Wes Streeting, memberikan pukulan telak bagi Starmer. Morris menyatakan dengan tegas bahwa sang Perdana Menteri telah kehilangan legitimasi di mata rakyat.
"Perdana menteri tidak lagi memiliki kepercayaan dari masyarakat," ujar Morris dalam sebuah pernyataan resmi. "Demi kepentingan terbaik negara dan partai, beliau harus menetapkan jadwal pengunduran diri yang cepat guna memastikan pemimpin baru dapat memulihkan kepercayaan publik."
Senada dengan Morris, Tom Rutland, anggota parlemen untuk East Worthing dan Shoreham, menilai otoritas Starmer telah runtuh. "Sangat jelas bagi saya bahwa Perdana Menteri telah kehilangan otoritas, tidak hanya di dalam Partai Buruh tetapi juga di seluruh negeri," tuturnya.
Dampak Kekalahan Pemilu Lokal
Tekanan hebat ini merupakan imbas dari hasil pemilu lokal yang mengecewakan, di mana Partai Buruh kehilangan hampir 1.500 kursi konselor di seluruh Inggris.
Selain itu, dominasi partai di Wales selama satu abad terakhir runtuh, serta mencatat hasil terburuk di Parlemen Skotlandia dengan hanya meraih 17 dari 129 kursi.
Munculnya dukungan kuat bagi partai Reform UK dan Partai Hijau di wilayah perkotaan semakin menyudutkan posisi Starmer sebagai pemimpin yang dianggap mampu membawa perubahan.
Respons Downing Street
Meski berada di bawah tekanan hebat, Sir Keir Starmer bersikeras untuk tetap bertahan. Dalam pidatonya, ia mengakui adanya kesalahan dalam pemerintahan namun mengklaim telah mengambil "pilihan politik besar yang tepat."
Starmer memperingatkan bahwa pengunduran dirinya saat ini justru akan memicu ketidakpastian nasional. "Mundur sekarang hanya akan menjerumuskan negara kita ke dalam kekacauan, seperti yang dilakukan oleh Partai Konservatif berulang kali," tegasnya.
Peta Persaingan Suksesi
Krisis ini juga membuka tabir persaingan kepemimpinan di masa depan. Nama-nama seperti Andy Burnham, Wali Kota Greater Manchester, dan Angela Rayner, mantan Wakil Perdana Menteri, mulai mencuat.
Rayner, saat berbicara di konferensi serikat pekerja, memberikan kritik tajam dengan menyatakan bahwa partai harus bekerja lebih baik. "Kita akan dinilai berdasarkan tindakan, bukan sekadar kata-kata," ucap Rayner.
Hingga berita ini diturunkan, kabinet dijadwalkan mengadakan pertemuan mendesak pada Selasa pagi untuk menentukan arah masa depan pemerintahan di tengah ancaman perpecahan yang semakin nyata.










