TVRINews, Doha
Negosiasi tidak langsung di Doha akan membahas pencairan aset senilai $6 miliar di tengah ketegangan navigasi Selat Hormuz.
Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan memulai kembali perundingan tidak langsung pada Rabu 1 Juli 2026 ini di Doha, Qatar. Pertemuan ini bertujuan membahas mekanisme pencairan aset Iran senilai sedikitnya $6 miliar yang selama ini dibekukan, sebuah langkah krusial dalam upaya meredakan ketegangan yang masih menyelimuti kawasan tersebut.
Meski upaya diplomatik terus berjalan, kedua negara belum melakukan pertemuan tatap muka sejak penandatanganan kesepakatan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz pada 17 Juni lalu.
Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan berada di Qatar untuk mendiskusikan berbagai isu regional.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menegaskan bahwa kehadiran mereka tidak secara langsung ditujukan untuk negosiasi bilateral dengan pihak Iran, melainkan melalui fasilitasi mediator Qatar.
"Mereka tidak di sini untuk negosiasi langsung dengan pihak Iran," ujar Al-Ansari dalam keterangannya.
Tantangan Implementasi dan Navigasi
Fokus utama perundingan saat ini mencakup implementasi nota kesepahaman yang disepakati bulan lalu. Salah satu poin krusial adalah rencana Iran untuk memberlakukan tarif bagi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
AS dan kekuatan Barat lainnya menentang rencana tersebut, meskipun mereka mungkin lebih terbuka terhadap proposal Oman mengenai kontribusi sukarela atau biaya untuk layanan navigasi tertentu.
Ketegangan tetap tinggi seiring upaya Iran untuk mempertahankan kontrol atas lalu lintas maritim. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran, memberikan peringatan tegas kepada negara-negara Eropa agar tidak ikut campur dalam urusan pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
"Iran lebih memahami tanggung jawabnya dibandingkan pihak lain mana pun dan mampu memenuhinya. Tidak perlu ada intervensi dari pihak luar. Intervensi semacam itu, meski mungkin dilakukan dengan niat baik, justru hanya akan memperumit situasi di lapangan," tegas Baghaei.
Kekhawatiran Diplomatik
Progres negosiasi yang lambat mulai memicu kekhawatiran di kalangan diplomat internasional. Terutama mengenai pembicaraan program nuklir Iran yang belum menunjukkan kemajuan berarti, padahal hanya tersisa waktu singkat dari batas waktu 60 hari yang ditetapkan sejak 17 Juni.
Di sektor maritim, data dari firma pelacakan Kpler menunjukkan aktivitas di Selat Hormuz mulai meningkat dengan 40 kapal transit pada hari Senin, dibandingkan 24 kapal pada hari sebelumnya. Namun, angka ini masih jauh di bawah level normal, yang menurut para pengamat, merupakan bagian dari strategi Iran untuk menjaga tekanan pada harga minyak global.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Baghaei tetap menunjukkan optimisme yang hati-hati. "Sejak awal proses diplomatik ini, tidak ada yang membayangkan proses yang mulus tanpa hambatan.
Perlu diingat bahwa proses ini dimulai setelah dua perang dalam kurun waktu kurang dari setahun. Kami memang memperkirakan akan menghadapi tantangan dalam fase implementasi," pungkasnya.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Doha, dengan harapan bahwa dialog tidak langsung ini dapat menjadi jembatan bagi stabilitas yang lebih permanen di kawasan Timur Tengah.










