TVRINews – Kyiv
Eskalasi kekerasan melonjak hanya beberapa jam sebelum pemberlakuan gencatan senjata yang diumumkan Kyiv.
Gelombang serangan udara Rusia menghantam sejumlah wilayah di Ukraina pada Selasa 5 Mei 2026, menewaskan sedikitnya 26 orang dan melukai lebih dari 80 lainnya.

(sumber: X/Hromadske)
Insiden tragis ini terjadi hanya beberapa jam sebelum rencana gencatan senjata sepihak Kyiv dimulai, dan tiga hari sebelum Moskow menjadwalkan jeda pertempurannya sendiri.
Pasukan Rusia dilaporkan meluncurkan bom pemandu (glide bombs), rudal balistik, dan pesawat tanpa awak (drone) ke titik-titik strategis di Kramatorsk, Zaporizhzhia, Chernihiv, Dnipro, Poltava, dan Kharkiv.
Serangan ini menandai salah satu eskalasi paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir.
Dampak Serangan di Sektor Sipil dan Energi
Gubernur wilayah Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 12 orang tewas di wilayahnya saja.
Sementara itu, di pusat kota Kramatorsk benteng terakhir Ukraina di wilayah Donetsk yang tengah terkepung Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan sedikitnya lima warga sipil kehilangan nyawa.

(sumber: X/Hromadske)
Serangan semalam juga menyasar infrastruktur vital. Fasilitas gas negara di wilayah Poltava dan Kharkiv menjadi sasaran rudal dan drone, yang menewaskan tiga karyawan dan dua petugas penyelamat.
CEO Naftogaz, Serhiy Koretskyi, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan kombinasi rudal balistik dan UAV yang menyebabkan kerusakan signifikan.
"Kami mengalami kerusakan besar dan kerugian produksi. Serangan ini mengakibatkan terputusnya pasokan gas bagi hampir 3.500 pelanggan," ujar Koretskyi dalam pernyataan resminya.
Reaksi Zelenskyy dan Urgensi Pertahanan Udara
Presiden Zelenskyy mengecam tindakan Moskow sebagai bentuk "sinisme total." Melalui platform media sosial X, ia menegaskan bahwa Ukraina sejatinya siap untuk langkah perdamaian yang nyata, namun akan merespons setiap agresi dengan setimpal.
"Rusia bisa menghentikan tembakan kapan saja, dan itu akan menghentikan perang serta respons kami. Perdamaian membutuhkan langkah nyata," tegas Zelenskyy.
Ia menambahkan bahwa Ukraina akan mulai mengamati gencatan senjata pada akhir Selasa, namun tetap dalam posisi siaga penuh.
Meskipun angkatan udara Ukraina berhasil melumpuhkan 149 dari 164 drone yang diluncurkan, tantangan besar tetap ada pada intersepsi rudal balistik.
Audrey Macalpine dari Al Jazeera melaporkan dari Kyiv bahwa keterbatasan sistem pertahanan udara menjadi celah fatal.
"Ukraina masih kekurangan sarana untuk mencegat rudal balistik. Itulah mengapa Presiden Zelenskyy terus mendesak mitra Eropa untuk bantuan sistem Patriot, karena hanya itu senjata yang mampu menghadapi ancaman balistik," lapor Macalpine.
Serangan Balasan ke Wilayah Rusia
Di sisi lain, konflik juga merembet ke wilayah kedaulatan Rusia. Otoritas di Republik Chuvashia mengumumkan status darurat setelah serangan drone Ukraina menewaskan dua orang dan melukai 32 lainnya.
Selain itu, sebuah kilang minyak besar di Kirishi, wilayah Leningrad, turut menjadi sasaran.
Kilang Kirishinefteorgsintez, yang mengolah sekitar 6,6 persen dari total volume penyulingan minyak Rusia, dilaporkan mengalami kebakaran namun berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghancurkan 289 drone Ukraina di berbagai wilayah Rusia dalam semalam, menunjukkan bahwa intensitas perang asimetris ini kian meningkat di kedua belah pihak menjelang peringatan Hari Kemenangan di Moskow.










