TVRINews – Berlin
Kanselir Merz Kritik Strategi Trump di Tengah Penarikan Pasukan Washington dari Berlin
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Jerman kini berada di titik nadir. Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait eskalasi perang di Iran telah berkembang menjadi perdebatan luas mengenai masa depan aliansi transatlantik, di saat Berlin mulai memosisikan diri sebagai kekuatan militer utama di Eropa.
Perselisihan ini memuncak setelah Kanselir Merz melontarkan kritik tajam yang menyebut Washington telah "dipermalukan" karena kegagalan mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Merz secara terbuka menuding Trump tidak memiliki strategi yang jelas dalam menangani konflik tersebut.
Sebagai respons, Trump mengumumkan penarikan 5.000 personel tentara AS dari wilayah Jerman, termasuk Brigade Stryker yang ditempatkan di Vilseck, Bavaria. Langkah ini memicu kekhawatiran serius di kalangan parlemen AS.
Roger Wicker dan Mike Rogers, ketua Komite Angkatan Bersenjata di Senat dan DPR AS, menyatakan "keprihatinan mendalam" atas keputusan penarikan tersebut yang dianggap dapat melemahkan stabilitas kawasan.
Signifikansi Strategis Jerman
Jerman merupakan pangkalan militer luar negeri terbesar bagi AS dengan sekitar 36.000 tentara. Infrastruktur seperti Pangkalan Udara Ramstein menjadi jantung operasi global AS, termasuk kendali drone dan pusat medis bagi personel yang terluka dalam perang Iran.
"Pemerintah Jerman mengklaim tidak terlibat dalam perang ini, namun tetap menyediakan infrastruktur militer dan dukungan logistik," ujar Lea Reisner, politisi dari Partai Kiri (Die Linke) sekaligus anggota komite urusan luar negeri parlemen, dalam pernyataannya kepada Al Jazeera.
"Negara yang memfasilitasi serangan tidak bisa secara kredibel menyebut dirinya netral. Itu adalah ketidakjujuran."
Dilema Keamanan dan Industri
Di sisi lain, Jurgen Hardt, juru bicara kebijakan luar negeri dari kelompok parlemen CDU/CSU, menegaskan bahwa keterlibatan militer Jerman secara langsung di Selat Hormuz memerlukan mandat internasional.
"Kemitraan transatlantik saat ini memang sedang menjalani 'uji stres' (stress test). Namun, pada akhirnya, Presiden Trump selalu berdiri bersama NATO," kata Hardt mencoba meredam ketegangan.
Analis dari Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman (DGAP), Dominik Tolksdorf, menilai ketegangan ini juga dipicu oleh ambisi Jerman untuk mandiri secara militer.
Berlin telah meningkatkan belanja pertahanan secara drastis dari 47 miliar euro pada 2021 menjadi 108 miliar euro saat ini, dengan target membangun tentara konvensional terkuat di Eropa pada tahun 2039.
Tekanan Domestik
Di dalam negeri, Kanselir Merz menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz telah memukul sektor industri Jerman, terutama otomotif, yang sebelumnya sudah terdampak oleh hilangnya akses gas murah pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
"Merz menginginkan konflik ini segera berakhir karena frustrasi terhadap arah strategis pemerintahan Trump yang dianggap tidak menentu," pungkas Tolksdorf.
Hingga saat ini, Berlin tetap pada posisinya untuk mempercepat pengembangan sistem persenjataan mandiri di Eropa, sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian kebijakan luar negeri Amerika Serikat di masa depan.










