TVRINews – Kyiv
Eskalasi konflik memanas setelah Rusia meluncurkan serangan balasan besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan wilayah sipil di ibu kota Ukraina.
Ibu kota Ukraina dilanda malam yang mencekam saat Rusia meluncurkan serangan udara masif selama 11 jam berturut-turut hingga Kamis 2 Juli 2026 waktu setempat. Aksi militer tersebut menyebabkan sedikitnya 20 warga sipil tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, dalam eskalasi yang disebut Moskow sebagai pembalasan atas serangan drone Ukraina terhadap sektor perminyakan Rusia.
Suara ledakan keras mengguncang berbagai sudut kota sepanjang malam. Warga terpaksa mencari perlindungan di stasiun kereta bawah tanah sementara otoritas keamanan mengeluarkan peringatan bahaya serangan udara.
Saat matahari terbit, tim evakuasi masih berpacu dengan waktu, menyisir puing-puing bangunan apartemen yang runtuh dan hangus terbakar guna mencari korban selamat.
Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa pengeboman tersebut dilakukan untuk merespons serangan jarak jauh Ukraina yang dinilai telah menekan ekonomi Rusia melalui krisis bahan bakar.
Sebaliknya, pemerintah Ukraina menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan bentuk pertahanan diri yang sah.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menggambarkan peristiwa semalam sebagai "malam horor". Menurut data dari Administrasi Militer Kota Kyiv, kerusakan tercatat di 30 titik, dengan sebagian besar menyasar kawasan hunian dan infrastruktur sipil. Sekitar 20 gedung apartemen dilaporkan mengalami kerusakan parah.
Serhii Budko, seorang warga Kyiv berusia 24 tahun, menuturkan kengerian yang ia rasakan saat perlindungan yang ia tempati ikut terguncang hebat. "Kami berada di dalam shelter dan merasakan guncangannya langit-langit, lantai, semuanya bergetar," ujarnya kepada The Associated Press.
Sementara itu, pihak Rusia bersikeras bahwa serangan tersebut ditujukan "secara eksklusif terhadap target militer atau yang terkait dengan militer". Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebutkan bahwa Kepala Staf Umum Rusia, Jenderal Valery Gerasimov, telah melaporkan hasil "serangan balasan masif" tersebut kepada Presiden Vladimir Putin.
Di sisi lain, Ukraina terus mendesak komunitas internasional untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara tambahan, terutama sistem rudal Patriot, guna memitigasi serangan rudal balistik yang sulit dicegat. Sybiha menegaskan bahwa tidak ada pembenaran atas serangan terhadap warga sipil dan merujuk pada Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak negara untuk mempertahankan diri.
Ketegangan ini terjadi di tengah intensifikasi serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia. Analis Barat mencatat bahwa strategi serangan jarak jauh Ukraina telah mengubah dinamika pertempuran, meskipun upaya diplomatik untuk mengakhiri perang sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih terus bekerja di lapangan. Otoritas setempat memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan besar masih akan bertambah seiring dengan berlanjutnya proses evakuasi di lokasi-lokasi terdampak.










