TVRINews – Teheran
Momen Krusial Uji Stabilitas Rezim di Tengah Ketidakpastian
Iran bersiap memulai rangkaian upacara pemakaman kenegaraan untuk mendiang Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang dijadwalkan berlangsung selama sepekan mulai Jumat 3 Juli 2026, Hari ini. Prosesi yang tertunda lebih dari empat bulan setelah kematiannya akibat serangan udara AS-Israel tersebut menjadi pertaruhan citra rezim di mata dunia.
Pemerintah Iran telah memobilisasi logistik besar-besaran untuk prosesi yang mencakup setidaknya lima kota di Iran dan Irak.
Pejabat pemerintah memperkirakan jutaan pelayat akan memadati jalanan, dalam sebuah perhelatan yang dirancang untuk menunjukkan ketahanan dan persatuan nasional.
"Kehadiran kalian yang luas akan menjadi jawaban tegas terhadap logika terorisme, kekerasan, dan perundungan, serta pesan jelas kepada dunia bahwa bangsa Iran berdiri bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabatnya," ujar Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan resminya yang dikutip Jumat 3 Juli 2026.
Simbolisme di Balik Penundaan…
Penundaan pemakaman yang berlangsung selama empat bulan sesuatu yang sangat tidak lazim dalam tradisi Islam menjadi indikator beratnya tekanan keamanan yang dihadapi Iran pascaserangan.
Pemerintah membantah spekulasi mengenai pemakaman rahasia sebelumnya, menegaskan bahwa jenazah disimpan sesuai dengan ketentuan syariat.
Bagi pengamat, skala dan koreografi acara ini bukan sekadar prosesi duka. Saeid Golkar, profesor di University of Tennessee at Chattanooga yang meneliti keamanan Iran, menilai pemerintah berupaya keras mengubah momen kematian Khamenei menjadi demonstrasi kontinuitas politik.
"Skala persiapan mencerminkan upaya rezim untuk mengubah kematian Ayatollah Khamenei menjadi tampilan kesinambungan yang terencana dengan hati-hati, bukan sebagai momen ketidakpastian," jelas Golkar.
Tantangan Legitimasi dan Regional…
Upacara ini juga akan menjadi panggung bagi pengaruh transnasional Iran. Rangkaian prosesi dijanjikan menjangkau Karbala dan Najaf di Irak, wilayah yang memiliki ikatan kuat dengan milisi Syiah yang didukung Teheran.
Afshon Ostovar, pakar isu keamanan Iran dari Naval Postgraduate School di California, menilai langkah ini sebagai upaya strategis bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
"Iran berharap untuk menegaskan kembali karakter transnasional yang telah mendefinisikan Republik Islam dan kebijakan luar negerinya," kata Ostovar.
Namun, di balik narasi kesatuan yang diusung rezim, kenyataan di lapangan tetap kompleks. Empat dekade kepemimpinan Khamenei meninggalkan warisan yang terpolarisasi; mulai dari represi terhadap perbedaan pendapat, tuduhan korupsi sistemik, hingga penguasaan ekonomi oleh angkatan bersenjata.
Hingga saat ini, suksesor Khamenei, yaitu putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum terlihat di depan publik sejak penunjukannya pada bulan Maret lalu. Absennya figur sentral baru ini menyisakan pertanyaan besar tentang transisi kepemimpinan di masa depan.
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan logistik yang masif, dengan meliburkan ibu kota selama tiga hari guna memfasilitasi pergerakan massa.
Sejarah kelam pemakaman figur besar Iran seperti kekacauan saat pemakaman Ruhollah Khomeini pada 1989 dan insiden desak-desakan di pemakaman Qassem Soleimani pada 2020 menjadi pengingat bagi otoritas akan kerentanan keamanan selama prosesi berlangsung.
Saat jenazah akhirnya disemayamkan di Mashhad, kampung halaman Khamenei, peristiwa ini tidak hanya akan menutup satu bab panjang sejarah Republik Islam, tetapi juga menandai dimulainya era ketidakpastian bagi evolusi politik Iran ke depan.










