TVRINews – Catia La Mar
Situasi darurat meluas seiring meningkatnya angka korban jiwa akibat gempa.
Tim penyelamat internasional berhasil mengevakuasi Hernan Gil, seorang pria berusia 43 tahun, dari reruntuhan gedung tujuh lantai yang runtuh akibat gempa kembar pekan lalu.
Penyelamatan Gil pada Kamis 2 Juli 2026 (waktu setempat) menjadi momen langka di tengah statistik suram bencana yang telah menelan setidaknya 2.295 jiwa dan melukai 11.000 lainnya.
Operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis ini melibatkan kolaborasi tim dari tujuh negara, termasuk Amerika Serikat, Cile, dan Meksiko.
Cristian Vera, pemimpin tim penyelamat asal Cile, mengungkapkan bahwa keberhasilan evakuasi tersebut adalah hasil dari upaya penggalian terowongan sepanjang tiga meter.
"Sangat sulit untuk mencapai titik tepat tempat korban berada," ujar Vera kepada kantor berita AFP. Selama masa penantian, tim medis berupaya menjaga kondisi Gil dengan menyalurkan oksigen dan air melalui selang kecil.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban," ungkap istri korban, Gusbimar Gonzalez, dengan haru.
Transisi Menuju Krisis Kemanusiaan
Namun, di luar keberhasilan evakuasi Gil, situasi di lapangan tetap kritis. Pemerintah Venezuela mencatat sekitar 60.000 bangunan rusak atau hancur total, meninggalkan 13.000 warga kehilangan tempat tinggal. Fokus operasi kini mulai bergeser dari pencarian korban selamat menjadi penanganan krisis kemanusiaan jangka panjang.
Koresponden Al Jazeera, Zein Basravi, melaporkan dari negara bagian La Guaira bahwa tanda huruf 'D' (deceased/meninggal) telah banyak ditemukan pada reruntuhan bangunan, menandakan kecilnya peluang ditemukannya korban selamat.
"Skala kehancuran ini begitu masif. Seiring berjalannya waktu, probabilitas menemukan korban dalam keadaan hidup semakin menipis," lapor Basravi.
Ancaman Krisis Kesehatan dan Ekonomi
Para pekerja kemanusiaan kini menghadapi tantangan baru berupa ancaman krisis kesehatan. Sistem kesehatan Venezuela, yang selama bertahun-tahun berjuang dengan keterbatasan tenaga medis dan pasokan listrik, kini terancam lumpuh oleh lonjakan kasus cedera yang tidak tertangani serta potensi wabah penyakit.
Program Pangan Dunia (WFP) telah mengajukan permohonan bantuan dana sebesar $50 juta untuk menyokong kebutuhan pangan bagi 500.000 warga selama tiga bulan ke depan. Sementara itu, citra satelit dari Program Pembangunan PBB (UNDP) mengestimasi kerugian fisik akibat bencana ini mencapai $6,7 miliar.
Bantuan internasional mulai mengalir, termasuk dukungan sebesar $300 juta dari pemerintah Amerika Serikat. Jurnalis Noris Soto, melaporkan dari Caracas, menekankan bahwa bantuan luar negeri akan menjadi tulang punggung bagi Venezuela dalam waktu yang cukup lama.
"Venezuela telah bergelut dengan kesulitan ekonomi selama dua dekade terakhir. Menambahkan bencana ini di atas krisis ekonomi yang sudah ada, membuat rakyat Venezuela akan membutuhkan bantuan berkelanjutan selama bertahun-tahun ke depan," pungkas Soto.










