TVRINews – Kolkata
Kekalahan Bersejarah Akhiri Dominasi 15 Tahun TMC.
Selama 15 tahun terakhir, Mamata Banerjee dan Partai Trinamool Congress (TMC) tampak seperti anomali dalam hukum politik di Bengala Barat, India: mereka selalu menemukan cara untuk bertahan hidup.
Namun, pada Selasa 5 Mei 2026, ketahanan tersebut menemui titik akhirnya, Kekalahan dramatis sosok populis itu dari Partai Bharatiya Janata (BJP) tidak hanya menggagalkan ambisinya untuk menjabat sebagai Menteri Utama untuk periode keempat berturut-turut, tetapi juga menandai berakhirnya sebuah era.
Jika berhasil menang, ia sejatinya akan bersanding dengan tokoh titan regional seperti Jyoti Basu dan Naveen Patnaik.
Kejatuhan Sang Penantang Arus
Penampilan Banerjee yang sederhana dibalut sari katun polos dan sandal jepit kerap mengecoh. Namun, di balik figur yang ringkih itu, tersimpan kekuatan yang pernah meruntuhkan pemerintahan Komunis terlama di dunia pada tahun 2011.

(Banerjee berpidato di hadapan para pendukungnya setelah meraih kemenangan besar pada 2011 (Foto: AFP))
Saat itu, The New York Times menjuluki dirinya sebagai "instrumen tumpul yang merobohkan Tembok Berlin mereka sendiri."
Kini, karier politiknya yang gemilang berada di titik ketidakpastian yang mendalam. Apa yang dimulai dengan protes jalanan yang heroik, berakhir dengan melemahnya benteng politik yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Warisan dan Kontradiksi Politik
Naiknya Banerjee ke tampuk kekuasaan ditempa dalam budaya politik Bengal yang kombatan.
Lahir dari keluarga kelas menengah bawah, ia mengultivasi persona sebagai pejuang jalanan sekaligus martir pemberontak abadi bahkan saat ia berada di dalam kekuasaan.
Mukulika Banerjee, seorang antropolog dari London School of Economics, memberikan perspektif mengenai identitas politik sang tokoh.
"Mamata, seperti Perdana Menteri Narendra Modi, telah menjadi politisi sepanjang hidupnya," ujar Mukulika.

(Banerjee saat menghadiri kampanye pemilihan untuk Partai Kongres di Kolkata pada 1991 (Foto: AFP))
"Lawan-lawannya adalah elit bhadralok Komunis pria kelas atas yang berpendidikan yang memandang rendah dirinya karena warna kulit dan kurangnya norma yang dianggap 'terhormat'."
Mukulika menambahkan bahwa keberhasilan awal Banerjee justru memperkuat komitmennya untuk berdiri bersama rakyat jelata.
"Semua orang memanggilnya 'Didi' (kakak perempuan) karena ia mewujudkan peran sebagai sosok pelindung yang sengit," lanjutnya.
Goyahnya Model 'Waralaba'
Namun, kharisma tidak selamanya mampu menopang sistem. Ilmuwan politik Dwaipayan Bhattacharyya menilai bahwa TMC bertransformasi menjadi model "waralaba", di mana pemimpin akar rumput diberi kekuasaan besar sebagai imbalan atas loyalitas.
"Model waralaba ini membuat TMC rentan," tulis Bhattacharyya pada tahun 2023. "Nafsu para pemimpinnya terhadap keuntungan material telah merusak etika politik dan meregangkan ikatan partai dengan rakyat."
Selain isu korupsi dan skema rekrutmen guru, krisis keuangan negara bagian turut mengikis kepercayaan publik. Hampir seperempat pendapatan negara habis hanya untuk mendanai skema kesejahteraan yang digagas Banerjee.
Babak Baru di Jalanan
Setelah kekalahan ini, Banerjee menghadapi tantangan eksistensial. Di tengah dominasi satu partai oleh BJP di bawah kepemimpinan Modi, banyak analis meragukan apakah ia mampu melakukan reinkarnasi politik sekali lagi.
Dalam konferensi pers pada Selasa malam, Banerjee tampak berusaha merebut kembali identitas lamanya sebagai oposisi yang tak kenal takut.
"Saya adalah burung yang bebas, rakyat biasa sekarang. Saya tidak lagi memiliki kursi kekuasaan," tegas Banerjee kepada wartawan sembari menuduh adanya keberpihakan komisi pemilihan.
"Saya bisa berada di mana saja, saya bisa bertarung di mana saja. Jadi, saya akan kembali ke jalanan."
Pertanyaan besar kini menggantung di udara Bengal: Apakah Mamata Banerjee akan terlahir kembali sebagai penggerak massa, atau ia akan perlahan memudar sebagai sisa-sisa dari tatanan politik lama yang telah runtuh?










