TVRINews – Havana
Lumpuhnya Jaringan Listrik Nasional Akibatkan Krisis Kemanusiaan dan Kelangkaan Bahan Bakar di Seluruh Wilayah Kuba.
Sistem kelistrikan nasional Kuba mengalami keruntuhan total yang mengakibatkan pemadaman massal di seluruh wilayah pulau tersebut. Keadaan ini memperparah krisis energi berkepanjangan yang telah lama membebani infrastruktur dasar negara di kawasan Karibia itu.
Perseroan Listrik Negara Kuba, yang dikenal sebagai UNE, mengumumkan insiden runtuhnya jaringan tersebut melalui platform media sosial X pada Minggu 2 Agustus 2026 malam waktu setempat.
Hingga pernyataan dirilis, otoritas berwenang belum dapat mengidentifikasi secara pasti pemicu utama keruntuhan, cakupan wilayah terdampak secara menyeluruh, maupun estimasi waktu pemulihan layanan listrik bagi masyarakat.
Sebelum kegagalan sistem secara nasional ini terjadi, perusahaan listrik ibu kota Havana telah melaporkan serangkaian gangguan operasional. Laporan tersebut mencakup kerusakan transformator, kegagalan sirkuit, serta pemadaman terencana akibat defisit kapasitas pembangkitan daya yang parah.
Berdasarkan laporan kantor berita Reuters, tercatat puluhan pengaduan warga dari berbagai wilayah administratif belum terselesaikan hingga Minggu dini hari, termasuk di kawasan Guanabacoa, Habana del Este, La Lisa, dan Marianao.
Dalam prosedur penanganan darurat, pihak berwenang lazimnya berupaya memulihkan jaringan melalui pembentukan pulau-pulau daya kecil yang terisolasi. Langkah ini diprioritaskan untuk memasok kebutuhan fasilitas vital, seperti rumah sakit, sistem pengolahan air bersih, serta pusat logistik pangan, sebelum secara bertahap menghubungkan kembali pembangkit listrik berkapasitas besar.
Insiden pada akhir pekan ini menambah daftar panjang kegagalan jaringan listrik skala nasional sepanjang tahun berjalan. Catatan menunjukkan bahwa jaringan utama sempat mengalami keruntuhan sebanyak tiga kali dalam rentang waktu sembilan hari pada bulan Juli lalu, termasuk dua kali pemadaman total yang melumpuhkan seluruh pulau dalam satu pekan yang sama.
Salah satu insiden tersebut mengisolasi sekitar 10 juta penduduk dari akses kelistrikan, tatkala pemerintah berjibaku memulihkan daya di tengah ketidakmampuan pembangkit untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Kemunduran sistem kelistrikan Kuba bersumber dari akumulasi kelangkaan pasokan bahan bakar, keterbatasan ketersediaan suku cadang pengganti, serta kerusakan berulang pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah uzur. Sebagian besar fasilitas pembangkit di negara tersebut telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade dengan perawatan yang sangat terbatas.
Pemerintah Kuba secara konsisten mengarahkan tanggung jawab kepada kebijakan Amerika Serikat yang memperketat pembatasan pasokan minyak ke pulau tersebut, sekaligus membatasi akses terhadap pembiayaan internasional dan perolehan peralatan teknik.
Tekanan eksternal ini semakin meruncing menyusul penghentian pasokan minyak utama dari Venezuela, setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade minyak menyusul insiden penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu. Di sisi lain, impor minyak alternatif dari Meksiko juga dilaporkan terhenti akibat meningkatnya tekanan diplomatik dan ekonomi dari Washington.
Kendati demikian, sejumlah pengamat dan pengamat independen menyoroti faktor internal berupa dekade-dekade minimnya investasi serta kesalahan pengelolaan struktural pada sektor energi nasional.
Pemadaman listrik berkepanjangan ini terbukti melumpuhkan berbagai sektor esensial, mulai dari sistem transportasi massal, distribusi pasokan air bersih, jaringan telekomunikasi, hingga layanan medis darurat.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat sipil menghadapi kesulitan berat dalam mengawetkan bahan makanan, menyiapkan kebutuhan harian, serta bertahan di tengah teriknya suhu musim panas.









