TVRINews, Jakarta
Sekretaris International Plant Protection Convention (IPPC), Enrico Perotti, membuka IPPC Regional Workshops 2026 dengan menekankan pentingnya peran negara-negara anggota IPPC dan Regional Plant Protection Organizations (RPPO) dalam membentuk masa depan perlindungan kesehatan tumbuhan di tingkat global.
Dalam sambutannya, Perotti menyampaikan bahwa lokakarya regional merupakan agenda tahunan penting yang menjadi wadah bagi negara anggota untuk meninjau perkembangan tata kelola IPPC, arah kebijakan strategis, penyusunan standar internasional, hingga pelaksanaan berbagai program peningkatan kapasitas.
"Siapa yang membentuk masa depan kesejahteraan tanah? Jawabannya mudah. Kalian semua, kita semua," kata Enrico Perotti dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui kanal YouTube FAO, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi Sekretariat IPPC untuk mendengarkan pengalaman, tantangan, serta kebutuhan dari setiap kawasan. Menurutnya, masukan dari negara anggota sangat penting dalam memperkuat kapasitas nasional maupun regional serta memastikan setiap kawasan berkontribusi dalam penyusunan kebijakan perlindungan kesehatan tumbuhan.
Selama lokakarya, peserta memperoleh pembaruan mengenai tata kelola organisasi, termasuk perkembangan kerja Commission on Phytosanitary Measures (CPM), Biro CPM, Komite Standar, serta Komite Implementasi dan Pengembangan Kapasitas. Pembahasan tersebut bertujuan meningkatkan transparansi dan memastikan seluruh negara anggota memahami serta ikut menentukan arah kerja IPPC.
Salah satu agenda utama dalam lokakarya tahun ini adalah pembahasan rancangan International Standards for Phytosanitary Measures (ISPMs) yang tengah memasuki tahap konsultasi. Standar tersebut mencakup berbagai komoditas hortikultura, seperti buah jeruk, benih Phaseolus vulgaris, buah apel (Malus domestica), pisang (Musa), hingga talas.
Perotti menegaskan bahwa masukan dari setiap kawasan menjadi bagian penting dalam proses penyusunan standar internasional tersebut.
"Feedback Anda sangat penting. Standar-standar hanya sekuat pengalaman global dan ekspertise saintifik di belakangnya,”jelasnya.
Selain penyusunan standar, lokakarya juga membahas berbagai inisiatif implementasi, seperti IPPC ePhyto Solution, Plant Health Campus, penilaian kapasitas fitosanitari, penguatan kewajiban nasional, serta tantangan implementasi di berbagai kawasan. Program-program tersebut dirancang untuk membantu negara anggota memperkuat sistem perlindungan tumbuhan secara praktis dan berkelanjutan.
Peserta juga mendapatkan pembaruan mengenai sejumlah program prioritas IPPC, di antaranya pengelolaan risiko fitosanitari pada kontainer laut, pengembangan jaringan laboratorium diagnostik, serta pelaksanaan Africa Phytosanitary Programme.
Selain sesi teknis, lokakarya menyediakan ruang bagi setiap kawasan untuk berbagi pengalaman mengenai perkembangan regional, kegiatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), inisiatif kesehatan tumbuhan, hingga tantangan yang dihadapi masing-masing negara.
Menurut Perotti, pertukaran pengalaman antarkawasan menjadi salah satu kekuatan utama dalam lokakarya tersebut karena memungkinkan setiap negara belajar dari praktik baik dan inovasi yang telah diterapkan di wilayah lain.
Menutup sambutannya, Perotti menyampaikan apresiasi kepada negara tuan rumah, organisasi perlindungan tumbuhan regional, serta seluruh peserta yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan.
"Penggabungan Anda dalam workshop-workshop ini secara langsung memperkuat keamanan makanan global, memfasilitasi pemasaran aman, dan melindungi lingkungan,”pungkasnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta bersama-sama membangun masa depan perlindungan kesehatan tumbuhan yang lebih baik di tingkat regional maupun global.









