TVRINews – Tokyo, Jepang
Washington dan Tokyo lakukan langkah bersama redam pelemahan yen ke level terendah dalam 40 tahun, tegaskan komitmen stabilitas ekonomi global.
Pemerintah Amerika Serikat dan Jepang secara resmi mengonfirmasi langkah intervensi pasar gabungan yang jarang terjadi guna membendung pelemahan tajam nilai tukar yen. Kebijakan ini diambil setelah mata uang Negeri Sakura tersebut merosot ke level terendahnya dalam kurun waktu empat dekade terakhir.
Strategis tersebut diumumkan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington siap membantu memperkuat mata uang Jepang sebagai bentuk eratnya hubungan bilateral dan dukungan terhadap stabilitas ekonomi global.
"Mereka menghadapi pelemahan yen dan membutuhkan sedikit bantuan. Kami akan selalu ada untuk Jepang," ujar Trump menanggapi pertanyaan wartawan mengenai alasan di balik dukungan finansial tersebut di Washington.
Pernyataan itu turut dikonfirmasi oleh Kementerian Keuangan Jepang. Dalam keterangan resminya Senin 3 Agustus 2026, otoritas keuangan Jepang menyebutkan bahwa operasi pembelian yen yang dilakukan bersama Departemen Keuangan Amerika Serikat bertujuan meredam volatilitas berlebihan serta pergerakan pasar yang tidak teratur dalam beberapa bulan terakhir.

(Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama berbicara kepada media mengenai aksi gabungan AS-Jepang di Kementerian Keuangan di Tokyo. (Foto: Japan News))
Analis pasar menilai langkah terkoordinasi ini mencerminkan tekad kuat kedua negara untuk mencegah dampak limpahan global akibat aksi jual yen dan obligasi pemerintah Jepang. Tekanan pasar tersebut sebelumnya turut mendongkrak imbal hasil US Treasury.
Dampak intervensi langsung terasa di pasar keuangan. Nilai tukar dolar Amerika Serikat sempat terkoreksi 0,2 persen ke level 157,07 yen pasca-pernyataan Presiden Trump. Angka tersebut jauh dari posisi tertingginya dalam 40 tahun terakhir yang sempat mendekati level 164 yen pada akhir bulan lalu. Namun, posisi dolar kembali bergerak naik ke level 157,70 yen setelah pengumuman resmi dari Kementerian Keuangan Jepang dirilis.
Jepang selama beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan berat akibat penurunan nilai tukar mata uangnya yang memicu lonjakan harga impor serta inflasi domestik. Kondisi ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat serta tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan politik di Tokyo.
Kendati demikian, Kementerian Keuangan Jepang menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau situasi secara seksama serta menjaga komunikasi erat dengan mitra di Departemen Keuangan Amerika Serikat.
"Kami tidak akan ragu untuk melakukan intervensi gabungan lebih lanjut jika diperlukan," tegas Kementerian Keuangan Jepang dalam pernyataan resminya.
Langkah kolaboratif ini tercatat sebagai aksi intervensi bersama pertama sejak tahun 2011 silam, ketika kedua negara melakukan aksi terkoordinasi untuk melemahkan yen pasca-bencana gempa bumi besar di Jepang timur.
Berdasarkan data Bank of Japan, Tokyo diperkirakan telah menggelontorkan dana hingga 58,97 miliar dolar Amerika Serikat untuk membeli yen saat melakukan intervensi di pasar New York.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent. Dalam pernyataan terpisah melalui platform media sosial X, Bessent menegaskan bahwa Washington mendukung penuh langkah moneter tegas yang diambil Jepang.
"Kami sangat mendukung langkah pasar dan moneter yang tegas oleh Jepang untuk mengoreksi nilai tukar yen yang dinilai terdepresiasi secara substansial," ujar Bessent, sembari kembali mendorong perlunya kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan.
Sejalan dengan seruan tersebut, Bank of Japan pada Jumat 31 Juli 2026 lalu memberikan sinyal paling kuat mengenai potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, kendati bank sentral masih mempertahankan kebijakan moneternya pada saat itu.
Sebagai bagian dari koordinasi kebijakan regional yang lebih luas, Korea Selatan turut dilaporkan melakukan intervensi serupa untuk menopang mata uang won.









