TVRINews – Bunia, Kongo
Krisis Kesehatan Kongo Memburuk, Wabah Ebola Lampaui 8.000 Kasus
Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo mencatat eskalasi yang mengkhawatirkan setelah jumlah kasus terkonfirmasi resmi melampaui angka 8.000 jiwa.
Situasi ini menempatkan otoritas kesehatan nasional dan lembaga internasional dalam tekanan besar di tengah keterbatasan tenaga medis serta gelombang penolakan di tingkat akar rumput.
Berdasarkan data terkini dari Kementerian Kesehatan Kongo yang dirilis akhir pekan lalu, total kasus terkonfirmasi telah mencapai 8.067 infeksi dengan angka kematian menyentuh 3.901 jiwa. Wabah yang diidentifikasi sebagai gelombang ke-17 dan paling mematikan di negara tersebut memiliki tingkat fatalitas yang melampaui 48 persen. Penyebaran ini kian masif akibat kemunculan galur langka Bundibugyo yang belum memiliki pengobatan spesifik maupun vaksin pencegah yang teruji.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan resminya menyoroti rasio kematian kasar yang tetap tinggi, terutama akibat tingginya kasus kematian yang terjadi di tengah komunitas.
"Rasio kematian yang terus tinggi, khususnya tingginya tingkat kematian di tengah komunitas, menegaskan keseriusan penyakit ini serta tantangan persisten dalam deteksi kasus secara tepat waktu dan akses terhadap perawatan pasien yang memadai sejak dini," demikian rilis WHO, Rabu 30 September 2026.
Kondisi lapangan semakin pelik dengan adanya hambatan keamanan dan ketidakpercayaan sosial. Sejak awal kemunculan wabah pada 15 Mei, respons penanggulangan kerap diwarnai skeptisisme warga lokal yang sempat menganggap remeh ancaman tersebut. Bahkan, sejumlah fasilitas kesehatan dan tenaga medis dilaporkan menjadi sasaran amuk massa akibat resistensi sosial yang tinggi.
Eskalasi krisis ini turut memicu insiden kekerasan terhadap pejabat politik lokal. Marie-Célestin Karondwa, pelaksana tugas presiden eksekutif federal partai berkuasa UDPS di Butembo, Provinsi Kivu Utara, dilaporkan berada dalam kondisi kritis setelah diserang oleh sekelompok orang tak dikenal.
Penyerangan tersebut diduga berkaitan dengan sikap korban yang secara terbuka membela langkah-langkah mitigasi pemerintah dalam siaran radio lokal. Pihak partai telah mendesak aparat penegak hukum segera melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.
Dampak wabah ini juga mulai melumpuhkan sektor pelayanan kesehatan esensial lainnya. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa layanan kesehatan primer rutin di Provinsi Ituri saja mengalami penurunan hingga 13 persen antara bulan April hingga Juni.
Pengalihan sumber daya besar-besaran untuk memadamkan rantai penularan Ebola menyebabkan berkurangnya ketersediaan staf medis serta menurunnya kunjungan masyarakat akibat rasa takut terinfeksi dan diisolasi.
Krisis tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor paling krusial di balik lambatnya laju pengendalian. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mencatat sebanyak 50 petugas medis telah gugur sejak wabah ini diumumkan. Situasi ini diperparah oleh aksi mogok kerja akibat persoalan keterlambatan insentif dan gaji yang belum terselesaikan.
Dibandingkan dengan krisis historis di Afrika Barat pada periode 2014 hingga 2016, penyebaran wabah di Kongo kali ini tercatat jauh lebih cepat dalam rentang waktu yang setara. Data Africa CDC menunjukkan bahwa pada pekan ke-19, wabah regional masa lalu mencatat 3.781 kasus, sementara wabah saat ini telah melesat melampaui angka tersebut. WHO memperingatkan bahwa tren penyebaran ini berada di jalur yang mengkhawatirkan untuk melampaui total korban jiwa dari wabah historis sebelumnya.
Meskipun beberapa wilayah seperti Provinsi Ituri dan Haut-Uele sempat menunjukkan indikasi penurunan kasus baru dalam beberapa pekan terakhir, luasnya cakupan geografis serta faktor perpindahan penduduk yang tinggi membuat upaya pembendatangan infeksi menghadapi jalan terjal. Pemerintah Kongo bersama komunitas internasional terus berpacu dengan waktu untuk meredam eskalasi sebelum dampaknya meluas melampaui batas kemampuan mitigasi global.










