TVRINews – Myanmar
Serangan udara militer Myanmar di pasar tradisional Rakhine menewaskan sedikitnya 50 warga sipil dan memicu kecaman luas atas eskalasi konflik berdarah
Krisis kemanusiaan di Myanmar kembali mencatatkan lembaran kelam setelah sebuah jet tempur militer menjatuhkan dua bom di pasar jalanan yang padat aktivitas di kota Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine Selasa 29 September 2026. Insiden yang terjadi pada siang hari tersebut menghancurkan kawasan komersial yang berada di bawah kendali kelompok pemberontak Arakan Army (AA), menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 58 lainnya.
Serangan ini berlangsung ketika warga sipil tengah berkerumun untuk berbelanja serta membongkar pasokan kebutuhan pokok yang baru saja tiba dari India. Su Chay, seorang perempuan berusia 19 tahun, termasuk di antara warga yang berada di lokasi kejadian ketika ledakan mengguncang wilayah tersebut.
Ayah korban, Kyaw Than, langsung bergegas keluar rumah setelah mendengar suara ledakan dahsyat dan menyaksikan kepulan asap hitam membumbung tinggi. Setibanya di lokasi, ia dihadapkan pada pemandangan yang memilukan dengan puluhan jasad manusia terbakar.
"Mereka tampak seperti arang. Beberapa di antaranya masih membara, tetapi mereka sudah tiada," ujar Kyaw Than kepada Agence France-Presse menggambarkan situasi mengerikan di lokasi kejadian, seraya menegaskan bahwa sasaran tersebut merupakan fasilitas publik warga sipil.
Konflik bersenjata di Myanmar terus memakan korban jiwa dalam jumlah masif sejak kudeta militer terjadi pada tahun 2021. Berdasarkan data dari Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), jumlah korban tewas akibat perang saudara di negara tersebut telah melampaui 100.000 jiwa.
Selain itu, jutaan penduduk terpaksa mengungsi, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 12 juta jiwa akan menghadapi krisis kekurangan pangan akut tahun ini.
Negara Bagian Rakhine sendiri merupakan wilayah strategis yang kini sebagian besar dikuasai oleh Arakan Army, kelompok pemberontak etnis Rakhine yang memperjuangkan otonomi luas. Juru bicara Arakan Army, Khaing Thu Kha, mengecam keras serangan udara tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan perang yang nyata.
"Arakan Army akan segera memberikan balasan setimpal kepada semua pihak yang terlibat dalam serangan udara ini," tegas Khaing Thu Kha melalui sambungan telepon.
Sementara itu, pihak militer Myanmar belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan resmi terkait insiden tersebut. Kendati demikian, militer sebelumnya kerap berdalih bahwa operasi udara yang mereka lakukan hanya menyasar kelompok yang mereka kategorikan sebagai teroris.
Kendati situasi keamanan kian memburuk, para relawan kemanusiaan tetap berjibaku mengevakuasi korban di tengah bayang-bayang ancaman susulan. Wai Hun Aung, seorang pekerja kemanusiaan independen di lokasi, mengungkapkan kecemasannya terhadap keselamatan tim penyelamat.
"Militer memiliki rekam jejak melakukan serangan susulan ketika massa berkumpul. Jadi, saat kami membantu korban di lapangan, kami juga harus terus menengadah ke langit karena takut jet tempur kembali datang," tuturnya.
Hingga kini, proses identifikasi korban masih menghadapi kendala berat akibat kondisi jenazah yang rusak parah. Di tengah suasana duka mendalam yang menyelimuti warga Rakhine, Kyaw Than masih terus mencari keberadaan putrinya, Su Chay, di antara puing-puing pasar yang telah hangus terbakar.










