TVRINews – Manila, Filipina
Korban tewas insiden kebakaran feri Filipina bertambah menjadi 35 orang setelah tim penyelamat menemukan jasad-jasad tambahan di dalam lambung kapal.
Jumlah korban tewas akibat kebakaran feri di perairan Filipina barat melonjak menjadi 35 orang. Kepolisian dan otoritas penjaga pantai setempat mengonfirmasi penemuan puluhan jenazah baru di tengah proses evakuasi yang masih terus berjalan.
Berdasarkan keterangan resmi Philippine Coast Guard pada hari Jumat 11 September 2026, tim pencari berhasil menemukan 30 jasad tambahan. Angka ini meningkat signifikan dari data awal yang mencatat lima korban jiwa dalam tragedi maritim yang terjadi pada hari Rabu sebelumnya.
Insiden nahas tersebut menimpa sebuah kapal feri yang sedang berlayar dari ibu kota Manila menuju Provinsi Palawan. Kapal tersebut mengangkut lebih dari 130 orang ketika kobaran api mendadak melahap bagian dalam badan kapal di tengah perjalanan panjang mereka.
Otoritas setempat mencatat bahwa hingga saat ini masih ada 54 orang yang dilaporkan hilang, sementara 43 penumpang dan kru dinyatakan selamat. Tim penyelamat sempat mengalami kendala besar pada hari Kamis akibat suhu panas ekstrem serta pekatnya kepulan asap di dalam bangkai kapal, yang memperlambat proses penyisiran terhadap korban terjebak.
Dokumentasi visual yang dirilis oleh Penjaga Pantai pada hari Jumat memperlihatkan interior kapal yang hangus total. Di lokasi kejadian, tampak sisa-sisa logam yang meleleh, abu pembakaran, serta satu unit kendaraan roda empat yang ikut terbakar hebat.
Komodor Noemi Cayabyab, juru bicara Penjaga Pantai, mengungkapkan bahwa sebagian besar jenazah ditemukan di area akomodasi kelas ekonomi kapal. Saat ini, tim penyidik forensik kepolisian sedang melakukan identifikasi mendalam terhadap jasad-jasad tersebut.
"Kami memahami duka mendalam yang dirasakan oleh keluarga terdampak akibat insiden tragis ini. Kami memastikan seluruh operasi evakuasi dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi kehormatan bagi para korban jiwa dan keluarga yang ditinggalkan," ujar Noemi Cayabyab sabtu 12 september 2026.
Sementara itu, jurnalis Al Jazeera di Manila, Jamela Alindogan, melaporkan bahwa banyak keluarga korban mendatangi posko informasi untuk mencari kejelasan nasib kerabat mereka. Menurutnya, sebagian besar keluarga justru mendapatkan informasi yang lebih akurat dari para penyintas ketimbang dari pihak manajemen perusahaan feri.
"Banyak informasi yang disampaikan oleh pihak pemerintah maupun sektor swasta terkesan sangat terbatas," kata Alindogan dalam laporan jurnalistiknya.
Transportasi laut menggunakan kapal feri merupakan sarana mobilitas utama yang vital bagi masyarakat di negara kepulauan seperti Filipina. Namun, kecelakaan laut kerap terjadi akibat faktor cuaca ekstrem, buruknya perawatan kapal, kapasitas penumpang yang berlebih, serta lemahnya penegakan regulasi keselamatan, khususnya di wilayah-wilayah terpencil.
"Perjalanan dari Manila di bagian utara menuju wilayah barat memakan waktu lebih dari sehari. Ini adalah rute yang sangat panjang, tetapi sekaligus menjadi moda transportasi paling terjangkau bagi jutaan warga Filipina," jelas Alindogan. Biaya perjalanan laut ini berkisar di angka 50 dolar Amerika Serikat, jauh lebih murah dibandingkan tiket pesawat yang mencapai 100 dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan manifes resmi, kapal feri sepanjang 53 meter tersebut mengangkut total 134 orang, yang terdiri dari 117 penumpang dan 17 kru kapal. Kapal ini sebenarnya memiliki kapasitas maksimum hingga 306 penumpang dan 27 kru. Penjaga pantai juga mencatat ada dua penumpang terdaftar di manifes yang akhirnya tidak jadi naik ke kapal.
Hingga saat ini, penyebab pasti munculnya api masih belum dapat dipastikan. Kebakaran tersebut dilaporkan terjadi ketika kapal feri sudah mendekati penghujung pelayaran menuju salah satu destinasi wisata populer di wilayah utara Palawan.
Kendati demikian, Otoritas Industri Maritim atau MARINA menyatakan, berdasarkan keterangan para saksi yang selamat, sempat terdengar dua kali ledakan susul-menyusul dari dalam kapal sebelum api akhirnya membesar dan membakar seluruh bagian kapal.










