TVRINews, Beirut
Usulan Washington picu kekhawatiran baru di Lebanon dan Israel terkait stabilitas regional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan wacana kontroversial terkait konflik di Lebanon. Di tengah meningkatnya kritik Washington terhadap operasi militer Israel melawan Hizbullah, Trump menyarankan agar Suriah mengambil alih tanggung jawab untuk melumpuhkan kelompok militan yang didukung Iran tersebut.
Pernyataan ini memicu alarm di berbagai ibu kota Timur Tengah. Trump berargumen bahwa pemerintahan baru di Damaskus, yang dipimpin oleh Ahmad al-Sharaa sejak jatuhnya rezim Bashar Assad 18 bulan lalu, dianggap lebih mampu menangani Hizbullah dibandingkan tentara Israel.
"Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah. Sejujurnya, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik," ujar Trump, seperti dikutip AP News Minggu 28 Juni 2028.
Presiden Trump menyampaikan pandangan tersebut di sela-sela KTT G7, di mana ia mengungkapkan kekhawatiran atas tingginya jumlah korban sipil dalam kampanye militer Israel di Lebanon. Menurut data yang dilaporkan, lebih dari 4.000 orang tewas akibat serangan Israel sejak eskalasi konflik dimulai pada 2 Maret lalu.
Penolakan dari Damaskus
Pemerintahan Ahmad al-Sharaa di Damaskus dengan tegas membantah rencana intervensi militer ke Lebanon. Dalam pidatonya di Damaskus pada 13 Juni, al-Sharaa menegaskan bahwa narasi keterlibatan Suriah adalah rumor yang tidak berdasar.
"Kami menyerukan pengakhiran perang secara permanen serta penguatan institusi di Lebanon," ujar al-Sharaa.
Ia menambahkan bahwa pernyataan Trump kemungkinan besar telah disalahartikan sebagai ajakan untuk melakukan invasi, padahal yang dimaksud adalah peran Suriah dalam menciptakan solusi perdamaian yang komprehensif.
Sejak berkuasa pada Desember 2024, prioritas utama Damaskus adalah rekonstruksi nasional dan stabilitas ekonomi setelah 14 tahun perang saudara. Para pemimpin Suriah menyatakan keinginan untuk tetap berada di luar konflik regional yang sedang berlangsung.
Ketidakpastian di Lapangan
Para pengamat regional mempertanyakan efektivitas proposal Trump. Randa Slim, Direktur Program Timur Tengah di Stimson Center, Washington, menilai usulan tersebut didasari oleh pemahaman yang kurang mendalam mengenai realitas lapangan.
"Suriah perlu fokus pada segudang tantangan kompleks, terutama membangun kembali negara yang hancur dan memulangkan jutaan pengungsi," kata Slim. Ia menambahkan, institusi militer Suriah saat ini masih dalam tahap transisi dan belum sepenuhnya kohesif.
Kekhawatiran juga muncul di Lebanon terkait trauma masa lalu. Memori kolektif akan pendudukan Suriah selama beberapa dekade yang berakhir pada 2005 masih membayangi opini publik Lebanon.
Di sisi lain, pejabat keamanan Israel dilaporkan telah menggelar pertemuan darurat untuk membahas implikasi kebijakan AS ini. Meski Israel memantau pergerakan di perbatasan Suriah dengan waspada, prioritas utama mereka tetap melokalisasi ancaman dari Hizbullah.
Situasi di kawasan kini semakin rumit dengan persaingan pengaruh antara Israel dan Turki di tanah Suriah. Washington hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai seberapa serius proposal ini akan diintegrasikan ke dalam kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.










