TVRINews – La Guaira, Venezuela
Harapan dan duka menyelimuti La Guaira saat tim penyelamat internasional berpacu melawan waktu mengevakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan.
Memasuki hari keempat pascagempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang negara bagian La Guaira, Venezuela, upaya pencarian dan penyelamatan terus diintensifkan.
Pemerintah Venezuela mengonfirmasi hingga Minggu 28 Juni 2026 sore waktu setempat, angka kematian telah mencapai 1.450 jiwa, sementara ribuan orang lainnya masih dilaporkan hilang.
Meski peluang menemukan penyintas semakin menipis seiring berlalunya waktu, tim penyelamat dari berbagai negara terus melakukan operasi evakuasi.
Berdasarkan laporan Associated Press (AP) Senin 29 Juni 2026, lebih dari 2.600 personel penyelamat internasional, yang dilengkapi dengan anjing pelacak dan peralatan berat, telah dikerahkan ke titik-titik terdampak paling parah.
Pertarungan Melawan Waktu
Secara medis, periode emas untuk evakuasi korban gempa berada pada rentang 48 hingga 72 jam pertama. Meski ambang batas tersebut telah terlewati, Pejabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan pencarian.
"Hari ini kami berhasil mengevakuasi orang-orang yang masih hidup. Kami akan selalu menjaga harapan," ujar Rodríguez dalam pernyataan resmi pemerintah.
(Pesan yang ditinggalkan oleh kerabat yang mencari orang hilang dipajang di pintu masuk bangunan yang hancur akibat gempa Minggu, 28 Juni 2026. (Foto AP/Matias Delacroix)
Di lapangan, optimisme dan duka bercampur aduk. Di kawasan La Guaira, tim penyelamat dari Amerika Serikat, Prancis, dan tim berhasil mengevakuasi seorang pria dan anaknya dari celah beton yang runtuh. Namun, di sisi lain, banyak keluarga masih harus menghadapi kenyataan pahit.
Helen Guedez, seorang warga yang mencoba menyelamatkan ayahnya, Jesús, dari apartemen mereka yang ambruk, mengungkapkan dilema yang dihadapi banyak penyintas. Tim penyelamat internasional sempat mendeteksi keberadaan ayahnya, namun menyatakan gedung tersebut terlalu tidak stabil untuk dimasuki.
"Kami tidak akan menyerah. Tim masih bersedia melanjutkan (pencarian). Mereka tahu ada cara lain untuk mengeluarkannya dan mereka mengatakan akan terus bekerja sampai akhir," tegas Guedez.
Krisis Kemanusiaan dan Tantangan Politik
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan hingga 6,8 juta dari total 30 juta penduduk Venezuela terdampak oleh bencana ini.
Selain kerusakan infrastruktur, di mana lebih dari 770 bangunan dinyatakan hancur total atau sebagian, sistem kesehatan publik Venezuela kini berada di bawah tekanan besar.
(Tim penyelamat dan sukarelawan berdiri di atas bangunan yang runtuh saat melakukan pencarian korban selamat Minggu, 28 Juni 2026. (Foto oleh Miguel Medina/Pool Photo via AP)
Di Rumah Sakit Domingo Luciani, Caracas, staf medis berjuang menangani lebih dari 3.100 korban luka. Leomery Pérez, seorang anestesiologis di rumah sakit tersebut, menuturkan bahwa ketersediaan pasokan medis sangat terbantu oleh aliran donasi dari masyarakat.
"Kami memiliki ribuan pasien, namun syukurlah, masyarakat merespons dengan mengirimkan banyak sekali bantuan," ungkapnya.
Bencana ini menambah lapisan kerumitan bagi pemerintahan Delcy Rodríguez di tengah instabilitas politik dan krisis ekonomi yang telah berlangsung selama satu dekade. Ronal Rodríguez, peneliti dari Venezuelan Observatory di Universitas Rosario, Bogotá, menilai situasi saat ini sangat kritis.
"Ada intervensi politik oleh Amerika Serikat, ketidakmampuan operasional pemerintah yang telah mendorong negara ke dalam krisis kemanusiaan yang kompleks, dan tiba-tiba, sebuah gempa bumi di tempat yang tidak memiliki sumber daya jangka pendek untuk mengatasi situasi tersebut," jelas Ronal Rodríguez.
Sementara itu, Amy Pope, Direktur Jenderal International Organization for Migration (IOM), memperingatkan bahwa bencana ini berpotensi memicu gelombang migrasi baru, mengingat sejarah krisis yang telah memaksa 8 juta warga Venezuela bermigrasi dalam dekade terakhir.
Hingga saat ini, upaya pemerintah memulihkan akses di La Guaira terus diperketat, dengan ribuan aparat kepolisian dan militer dikerahkan untuk menjaga wilayah terdampak.
Sementara itu, warga yang kehilangan anggota keluarga terus memanfaatkan basis data digital non-pemerintah untuk melaporkan orang hilang, di tengah layanan telekomunikasi yang masih terganggu.










