TVRINews, Gaza
Gagalnya Infrastruktur Air dan Sanitasi Picu Krisis Kesehatan Masyarakat di Jalur Gaza.
Bagi ribuan keluarga pengungsi di Gaza, ancaman kini tidak lagi sebatas proyektil dan serangan militer. Runtuhnya infrastruktur dasar telah mengubah kehidupan sehari-hari menjadi bahaya kesehatan yang nyata, seiring dengan menumpuknya limbah, meluapnya saluran pembuangan, dan semakin langkanya akses terhadap air bersih.
Laporan terbaru dari lembaga internasional memperingatkan adanya ancaman penyakit menular yang menyebar luas di tengah suhu udara yang melonjak tajam. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat lebih dari 125.000 kasus infeksi kulit akibat parasit dan tikus hanya dalam periode Januari hingga Mei 2026.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah rusak atau hancur. Akibatnya, sekitar 80 persen populasi kini terpaksa bergantung pada kiriman air tangki yang terbatas.
Infrastruktur Hancur, Penyakit Menyebar
Prue Coakley, Koordinator Darurat Gaza untuk Medecins Sans Frontieres (MSF) yang berbasis di Amman, menegaskan bahwa rusaknya jaringan listrik dan sistem pembuangan limbah telah menciptakan risiko kesehatan yang ekstrem.
(Anak anak Gaza diantara Tumpukan gunung sampah (Foto: AFP))
"Semua jaringan air, sistem pembuangan limbah, dan listrik rusak. Secara fungsional, sistem sanitasi yang layak sudah tidak ada lagi," ujar Coakley kepada Arab News.
Ia menjelaskan bahwa ketika hujan turun, konten limbah yang seharusnya berada di bawah tanah justru meluap ke jalanan dan membanjiri tenda-tenda pengungsi.
Coakley menambahkan, tim medis MSF mengamati korelasi langsung antara kerusakan infrastruktur dengan peningkatan berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan.
Risiko di Balik Suhu Ekstrem
Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, menyoroti bahwa kondisi sanitasi yang buruk dan kepadatan berlebih di kamp pengungsian menciptakan ekosistem ideal bagi penularan penyakit.
"Risiko kesehatan masyarakat yang paling mendesak adalah penyakit menular yang terkait dengan air tidak aman, sanitasi buruk, pengelolaan limbah yang tidak memadai, serta kondisi hunian yang penuh sesak," jelas Lindmeier.
Data WHO menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: sejak 1 Januari hingga 7 Mei 2026, tercatat lebih dari 153.100 kasus diare cair akut di Gaza.
Tren ini melanjutkan pola buruk dari tahun 2025, di mana tercatat hampir setengah juta kasus penyakit serupa, dengan hampir separuhnya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun.
Krisis yang Diperparah oleh Pemindahan Berulang
Konflik yang terus berlanjut memaksa penduduk Gaza untuk berpindah tempat berkali-kali beberapa keluarga dilaporkan harus mengungsi hingga 16 kali. Proses pemindahan ini tidak hanya menghilangkan kepemilikan barang pribadi, tetapi juga melumpuhkan kemampuan warga untuk menjaga kebersihan diri.
(Warga yang mengungsi akibat perang mengantre untuk mengisi wadah air mereka dari tangki penampungan di Khan Yunis, Jalur Gaza bagian selatan, pada 6 Juni 2026. (Foto: AFP))
"Anda bisa melakukan edukasi kesehatan dan memberikan perawatan di klinik, tetapi ketika mereka kembali ke lingkungan tempat tinggal yang sama, mereka akan terinfeksi kembali," ungkap Coakley.
Di tengah suhu musim panas yang mencapai 34 hingga 35 derajat Celsius, krisis ini diperparah oleh kelangkaan bahan bakar yang menghambat operasional fasilitas kesehatan, pengolahan air limbah, dan ambulans.
WHO dan lembaga kemanusiaan lainnya memperingatkan bahwa tanpa perbaikan infrastruktur yang mendasar serta pasokan logistik yang berkelanjutan, upaya medis saja tidak akan cukup untuk membendung potensi wabah besar di masa depan.
Berdasarkan laporan Final Gaza Rapid Damage and Needs Assessment oleh Bank Dunia, Uni Eropa, dan PBB, pemulihan infrastruktur Gaza diproyeksikan membutuhkan dana sedikitnya 71,4 miliar dolar AS dalam satu dekade mendatang.
Untuk saat ini, perjuangan bagi keluarga di Gaza bukan lagi sekadar bertahan hidup dari konflik, melainkan berupaya tetap sehat di tengah lingkungan yang kian memburuk.










