TVRINews – Beijing
Insiden di Provinsi Shanxi menjadi bencana tambang terburuk sejak 2009, memicu penyelidikan tingkat tinggi atas pelanggaran keselamatan kerja.
Setidaknya 90 orang dipastikan tewas akibat ledakan gas di sebuah tambang batu bara di wilayah utara China.
Insiden maut yang terjadi di Tambang Batu Bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, ini tercatat sebagai bencana pertambangan terburuk di negara tersebut sejak tahun 2009.
Berdasarkan laporan media resmi pemerintah, ledakan gas terjadi pada Jumat 22 Mei 2026 malam pukul 19.29 waktu setempat.
Saat insiden berlangsung, terdapat 247 pekerja yang sedang bertugas di dalam tanah. Lebih dari 100 orang berhasil dievakuasi ke tempat aman, sementara ratusan personel penyelamat langsung dikerahkan ke lokasi kejadian.
Presiden China, Xi Jinping, menginstruksikan jajarannya untuk mengerahkan segala upaya dalam merawat korban luka dan mencari korban selamat yang masih terjebak.
Kepala Negara juga memerintahkan pemerintah pusat untuk menyelidiki secara menyeluruh penyebab ledakan dan menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait.
Dampak Gas Beracun dan Kesaksian Penyintas
Hingga saat ini sabtu 23 Mei , sebanyak 27 pekerja masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat. Satu orang dilaporkan dalam kondisi kritis, sementara sebagian besar korban lainnya mengalami luka ringan akibat menghirup gas beracun.
Salah seorang penambang yang selamat, Wang Yong, memberikan kesaksiannya saat detik-detik mencekam itu terjadi. Ia mengaku tidak mendengar suara ledakan sama sekali, melainkan hanya melihat kepulan asap yang datang secara tiba-tiba.
"Saya mencium bau belerang, persis seperti bau usai peledakan. Saya langsung berteriak meminta orang-orang untuk berlari. Saat kami melarikan diri, saya melihat rekan-rekan bertumbangan akibat kabut gas tersebut. Setelah itu, saya pun pingsan," ujar Wang kepada media pemerintah.
"Saya terkapar di sana sekitar satu jam sebelum akhirnya sadar sendiri. Saya membangunkan rekan di sebelah saya, dan kami berhasil keluar bersama-sama."
Kendala Evakuasi dan Rekam Jejak Pelanggaran
Pihak berwenang dilaporkan telah menahan sejumlah anggota tim manajemen tambang. Meski penyebab pasti ledakan belum diumumkan, laporan awal mengindikasikan bahwa kadar karbon monoksida gas yang sangat beracun dan tidak berbau di dalam tambang telah melampaui ambang batas aman.
Kementerian Manajemen Darurat China telah mengirimkan 345 personel dari enam tim penyelamat khusus untuk membantu jalannya operasi.
Namun, proses evakuasi menghadapi kendala besar akibat akumulasi air di sekitar titik ledakan yang menutup akses ke beberapa area. Selain itu, cetak biru (blueprint) struktur tambang yang disediakan pihak pengelola ternyata tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Penyelidikan mendalam kini mengarah pada rekam jejak regulasi perusahaan. Berikut adalah catatan formal terkait Tambang Liushenyu:
• Tahun 2024: Tambang Liushenyu dimasukkan ke dalam daftar hitam sebagai salah satu wilayah dengan "bahaya keselamatan yang parah" oleh Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China.
• Tahun 2025: Tongzhou Group, selaku perusahaan pengelola tambang, tercatat telah menerima dua sanksi administratif akibat pelanggaran prosedur keselamatan kerja.
Retrospeksi Industri Energi China
Provinsi Shanxi merupakan jantung energi bagi Negeri Tirai Bambu, dengan kontribusi lebih dari seperempat dari total produksi batu bara nasional. Tragedi ini kembali membangkitkan memori kelam era awal 2000-an, masa di mana kecelakaan fatal hampir menjadi pemandangan rutin di sektor pertambangan China.
Meski standar keselamatan telah diperketat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan penertiban tambang ilegal gencar dilakukan khususnya di Shanxi risiko kecelakaan kerja tetap membayang.
Pada tahun 2023, insiden runtuhnya tambang terbuka di wilayah Mongolia Dalam menewaskan 53 orang. Sementara pada 2009, ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang merenggut lebih dari 100 nyawa.
Sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia sekaligus emiten gas rumah kaca terbesar, China saat ini berada di tengah ambisi besar untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan. Namun, ketergantungan pada komoditas fosil ini tetap tinggi.
Peristiwa domestik yang menyita perhatian publik ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah kunjungan kenegaraan tingkat tinggi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Rusia Vladimir Putin ke negara tersebut.










