TVRINews – Washington
Washington Meminta Sekutu Timur Tengah Bersiap Hadapi Serangan Balasan Iran
Amerika Serikat dikabarkan telah meminta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang serangan baru Iran. Berdasarkan informasi dari dua diplomat senior yang mengikuti perkembangan situasi tersebut, instruksi ini disampaikan sebagai langkah antisipasi menyusul berakhirnya pemilihan paruh waktu di AS.
Pemerintahan Washington memperkirakan eskalasi militer lanjutan ini berpotensi berlangsung selama beberapa hari. Kendati demikian, para pejabat di tingkat regional tetap bersiap menghadapi kemungkinan respons balasan yang jauh lebih panjang dari Teheran beserta kelompok proksinya.
Para diplomat yang berbicara dengan syarat anonimitas itu menambahkan bahwa Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan final terkait rencana aksi militer tersebut, meskipun ia berulang kali menyatakan tengah mempertimbangkan opsi tersebut setelah pemilu selesai.
Pada Rabu 28 Oktober 2026,sebagai bagian dari langkah pengamanan, para sekutu regional diimbau untuk memperketat protokol keselamatan. Potensi target balasan diprediksi mencakup fasilitas energi serta berbagai infrastruktur vital lainnya di kawasan. Sebelum laporan ini mencuat, surat kabar The Wall Street Journal juga telah memberitahu negara-negara Teluk mengenai potensi peningkatan ketegangan militer.
Militer Amerika Serikat sendiri terpantau telah memperkuat kehadiran personel dan armadanya di kawasan Teluk sejak akhir bulan lalu, termasuk pengerahan kapal induk USS Theodore Roosevelt beserta ribuan marinir. Berdasarkan estimasi terbaru Pentagon yang dilaporkan kepada Kongres, akumulasi biaya operasional konflik ini telah mencapai angka 47,1 miliar dolar Amerika Serikat.
Dalam tanggapannya terkait durasi konflik, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa penyelesaian perang berada di bawah kendalinya. "Seseorang bertanya kepada saya sebelumnya, kapan perang di Iran akan berakhir? Saya katakan, kapan pun saya ingin perang itu berakhir," ujar Trump saat memberikan keterangan di Lubbock, Texas. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari operasi tersebut adalah memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, dinamika politik di Israel turut memengaruhi kalkulasi strategis di kawasan. Para pengamat keamanan menilai hasil pemilu Israel yang belum menghasilkan kepastian mutlak memberikan keleluasaan bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengambil keputusan militer bersama Amerika Serikat, mengingat posisinya saat ini sebagai perdana menteri transisi.
Danny Citrinowicz, seorang mantan analis intelijen militer Israel, berpandangan bahwa tidak ada hambatan hukum yang signifikan bagi Netanyahu untuk melangkah. "Ia tidak memiliki kendala hukum," ujar Citrinowicz kepada Financial Times. "Militer Israel mungkin awalnya menolak inisiatif perang saat ini, namun ketika Trump menelepon dan mengatakan bahwa inilah saatnya, mereka tidak akan menolak."
Di sisi lain, pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, melontarkan kritik tajam terhadap langkah potensial tersebut. Ia menilai Netanyahu tidak lagi memiliki mandat maupun kepercayaan penuh dari masyarakat untuk mengambil keputusan strategis berskala besar. "Netanyahu, jangan berani-berani menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politik Anda," tegas Eisenkot.
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya sempat mereda setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni lalu. Namun, perundingan tersebut pada akhirnya menemui jalan buntu akibat perbedaan pandangan mendasar, termasuk persoalan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi pasokan energi global.










