TVRINews – Dnipro, Ukraina
Serangan udara menghantam peron stasiun kereta api di Dnipro di tengah rapuhnya gencatan senjata lokal, memicu kecaman keras Presiden Volodymyr Zelensky terhadap pelonggaran sanksi internasional
Serangan udara menggunakan nirawak atau drone militer Rusia dilaporkan menghantam area peron yang padat aktivitas di sebuah stasiun kereta api di wilayah Dnipro, Ukraina, pada Kamis 29 Oktober 2026. Peristiwa tragis tersebut merenggut nyawa sedikitnya 13 orang dan memicu reaksi keras dari tingkat kepemimpinan tertinggi negara itu.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang mengerikan. Ia menegaskan bahwa musibah ini menuntut respons tegas serta berkelanjutan dari sekutu-sekutu internasional Kyiv.
"Sanksi terhadap Moskow dan mesin perang mereka tidak boleh dilonggarkan selama perang Rusia ini terus berlangsung," ujar Zelensky dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari laporan media internasional Arab News.
Berdasarkan keterangan dari pihak Angkatan Udara Ukraina, militer negara tersebut sempat mencegat tiga unit drone bertenaga jet dalam serangan siang hari itu. Kendati demikian, satu unit lainnya berhasil lolos dari sistem pertahanan udara dan menargetkan langsung fasilitas publik tersebut.
Kepala Perusahaan Kereta Api Ukraina, Oleksandr Pertsovsky, menyampaikan melalui akun media sosialnya bahwa tingkat ancaman tinggi telah diumumkan sebelumnya. Kendati demikian, kerumunan warga masih tampak dalam jumlah besar di area peron saat insiden terjadi.
Dokumentasi visual yang dirilis oleh dinas darurat setempat memperlihatkan dampak kehancuran yang parah, termasuk dua rangkaian kereta penumpang yang terbakar hebat dengan kondisi kaca jendela hancur berkeping-keping.
Tragedi ini beririsan dengan upaya kedua negara untuk mempertahankan gencatan senjata lokal yang masih rapuh di kota Oleshky yang berada di bawah pendudukan Rusia sejak 2022. Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, sebelumnya mengonfirmasi bahwa ia bersama delegasi Ukraina telah bertolak menuju wilayah tersebut melalui Belarus dan Rusia.
Di sisi lain, gelombang serangan militer Moskow juga dilaporkan menelan korban jiwa di wilayah lain. Di pusat kota Chernigiv, serangan terpisah menewaskan dua remaja perempuan berusia 15 tahun serta melukai lebih dari belasan warga lainnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kepala Administrasi Militer Chernigiv, Dmytro Bryzhynsky.
Insiden serupa juga terjadi di kota Kremenchuk, di mana sebuah drone menghantam bangunan pemukiman bertingkat. Gubernur setempat melaporkan dua orang tewas dan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka, termasuk seorang anak berusia enam tahun.
Peningkatan intensitas serangan udara ini terjadi di tengah persiapan pertemuan lanjutan antara Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlangsung bulan depan dengan fasilitasi mediasi Amerika Serikat guna mencari penyelesaian diplomatik atas konflik berkepanjangan di kawasan Eropa tersebut.










