TVRINews – Singapura
PM Lawrence Wong Memperingatkan Gangguan Pasokan Global dan Lonjakan Inflasi Akibat Penutupan Jalur Pengiriman Utama
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memberikan peringatan keras mengenai prospek ekonomi negara kota tersebut di tengah eskalasi krisis Timur Tengah yang terus berlanjut.
Dalam pidato Hari Buruh pada Jumat 1 Mei 2026, Wong menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz akan memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan inflasi domestik.
Situasi geopolitik yang memanas, dipicu oleh aksi militer di kawasan tersebut, telah melumpuhkan jalur pelayaran yang mengangkut seperlima kebutuhan minyak dan gas global. PM Wong menegaskan bahwa konflik ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Dampak Sistemik pada Kawasan Asia
Sebagai pusat perdagangan dunia, Singapura berada di garis depan dampak gangguan ini. PM Wong menyoroti kerentanan kawasan Asia yang memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
"Di sini, di Asia, kita sangat terdampak karena ketergantungan yang tinggi pada energi dan pasokan kritis lainnya dari Teluk," ujar PM Wong dalam pidatonya.
Ia menambahkan bahwa dampaknya kini mulai terasa secara fisik di beberapa negara tetangga. "Sejumlah negara di kawasan ini sudah menghadapi kekurangan bahan bakar,
maskapai penerbangan mengurangi jadwal penerbangan, dan sektor manufaktur mulai melaporkan keterlambatan produksi," jelasnya.
Proyeksi Ekonomi dan Tekanan Domestik
Meski Kementerian Perdagangan Singapura sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan sebesar 2% hingga 4% pada Februari lalu, dinamika di Selat Hormuz memaksa pemerintah untuk mengevaluasi kembali ekspektasi tersebut.
Wong memperingatkan bahwa inflasi akan merembet dari sektor energi ke kebutuhan pokok lainnya, termasuk pangan.
"Pertumbuhan kita tahun ini akan melambat, dan inflasi akan lebih tinggi. Semua ini akan memberikan tekanan nyata bagi bisnis, pekerja, dan rumah tangga," tuturnya dengan nada lugas sebagai bentuk transparansi kepada publik.
Ketahanan Energi dan Tantangan Pemulihan
Di tengah ketidakpastian, PM Wong menyatakan bahwa Singapura memiliki posisi tawar yang relatif lebih kuat dibandingkan negara lain berkat kebijakan ketahanan energi yang telah dibangun sejak lama.
Status Singapura sebagai pusat pemurnian minyak mentah dan pusat perdagangan energi utama dunia menjadi bantalan dalam menghadapi guncangan pasokan.
Namun, ia menekankan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran bukanlah solusi instan. Ada tantangan teknis dan psikologis yang harus diselesaikan sebelum stabilitas kembali pulih, seperti:
• Pembersihan ranjau di jalur pelayaran.
• Perbaikan infrastruktur pelabuhan dan energi yang rusak.
• Pemulihan kepercayaan pasar terkait asuransi pengiriman internasional.
"Kita harus membentengi diri dan bersiap untuk periode yang lebih sulit di masa depan. Saya ingin berterus terang kepada Anda semua agar kita siap secara mental," pungkas PM Wong.










