TVRINews – New Delhi
Pertemuan tingkat tinggi di New Delhi fokus menghadapi krisis geopolitik dan tekanan ekonomi internasional.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahunan BRICS resmi dibuka di New Delhi, India. Pertemuan penting yang berlangsung selama dua hari ini dipimpin langsung oleh Perdana Menteri India Narendra Modi, menandai untuk keempat kalinya negara tersebut menjadi tuan rumah forum kerja sama strategis tersebut.
Namun, perhelatan kali ini berlangsung di tengah lanskap geopolitik global yang sarat tekanan. Konflik bersenjata yang berkecamuk di Ukraina dan Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok energi serta jalur pelayaran internasional. Di sisi lain, kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat turut menekan stabilitas ekonomi para negara anggota.
"India memegang kepresidensi pada momen yang sangat krusial," ujar Al Jazeera’s Um-e-Kulsoom Shariff dalam laporan pandangan mata dari New Delhi. Ia menambahkan bahwa aliansi ini menghadapi ujian besar di usia dua dekade dalam upaya memperkuat posisi Global South di tengah perpecahan internal terkait cara merespons tantangan global.
Sejumlah pemimpin negara terkemuka tampak hadir di ibu kota India, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kedatangan Presiden Xi di New Delhi akhir pekan ini menjadi kunjungan pertamanya ke India dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, di tengah upaya kedua raksasa Asia tersebut mencairkan hubungan bilateral.
Selain para kepala negara anggota inti, KTT ini juga dihadiri oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed, serta Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Uni Emirat Arab (UEA) mengirimkan Putra Mahkota Abu Dhabi sebagai perwakilan resmi, sementara Brasil diwakili oleh Menteri Luar Negeri Mauro Vieira. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres bersama pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) turut hadir sebagai undangan khusus.
Agenda utama pertemuan ini meliputi pembahasan perluasan jalur pembayaran lintas batas non-Barat, kerja sama kecerdasan buatan, ketahanan energi, hingga mitigasi perubahan iklim. Kendati demikian, perbedaan pandangan politik antaranggota masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi kepemimpinan India.
Isu tarif perdagangan sepihak yang diterapkan Amerika Serikat menjadi salah satu sorotan tajam para menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS. Kebijakan tersebut dinilai mendistorsi perdagangan global serta bertentangan dengan aturan WTO. Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump sebelumnya kerap melontarkan kritik tajam terhadap aliansi ini dan mengancam penerapan sanksi tarif bagi negara yang berafiliasi.
Di tengah kompleksitas agenda diplomatik tersebut, KTT BRICS di New Delhi menjadi panggung ujian bagi diplomasi India dalam merajut konsensus di antara para kekuatan ekonomi berkembang dunia.










