TVRINews -Yaman
Pergerakan milisi Houthi di pesisir Yaman memperluas pengaruh strategis Iran dan memicu kekhawatiran global atas keamanan maritim internasional.
Konflik di Timur Tengah kembali menghadapi babak baru yang berisiko tinggi. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan berhasil merebut wilayah pesisir strategis di sepanjang Laut Merah dalam serangan kilat yang mengejutkan banyak pihak.
Berdasarkan estimasi, kelompok pemberontak yang didukung oleh Iran tersebut telah menguasai sekitar 130 kilometer garis pantai yang sangat vital bagi perdagangan global. Keberhasilan militer ini menunjukkan bahwa Houthi tetap menjadi kekuatan yang diperhitungkan, meskipun telah menghadapi perang saudara selama 12 tahun serta berbagai serangan udara dari koalisi regional dan internasional.
"Sekarang setelah mereka berada di sana, mereka akan bertahan," ujar Hisham al-Omeisi, analis senior di European Institute of Peace yang berbasis di Brussels, kepada BBC. "Dan akan jauh lebih mahal untuk mendesak mereka keluar." Jumat 11 September 2026.
Perkembangan ini terjadi di tengah melemahnya bagian lain dari aliansi regional Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan rezim Assad di Suriah. Hal tersebut mendorong Teheran untuk mengalihkan fokus dan dukungan penuhnya kepada Houthi di Yaman.
Para pengamat Global menilai situasi ini menempatkan Iran dalam posisi kontrol yang semakin kuat terhadap jalur pasokan energi dunia. Saat ini, Teheran melalui kekuatan langsung maupun proksinya memegang kendali atas dua titik krusial maritim dunia: Selat Hormuz di Teluk Persia dan Bab al-Mandab sebagai pintu gerbang Laut Merah menuju Terusan Suez.
Farea al-Muslimi, seorang peneliti di lembaga kajian Chatham House London, mengungkapkan bahwa kendali atas wilayah tersebut mencakup lebih dari 35 persen perdagangan bahan bakar dan minyak secara global. "Ini memiliki daya tawar yang setara dengan bom nuklir," ujarnya.
Tekanan geopolitik ini turut dirasakan oleh Arab Saudi. Citra satelit menunjukkan adanya indikasi serangan pesawat nirawak dan rudal terhadap jalur pipa minyak timur-barat milik Saudi, yang berfungsi sebagai rute alternatif vital di tengah ketegangan kawasan.
Sementara itu, peneliti dari Royal United Services Institute di London, Baraa Shaiban, menuturkan bahwa eskalasi pertempuran terburuk sejak gencatan senjata tahun 2022 ini mulai meningkat tajam setelah delegasi Houthi kembali dari pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada bulan Juli lalu.
Di sisi lain, respons dari Amerika Serikat masih berada dalam bayang-bayang kehati-hatian. Laporan media menyebutkan bahwa permohonan intervensi langsung dari Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, belum membuahkan hasil, mengingat pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menghindari keterlibatan militer langsung menjelang pemilihan paruh waktu di AS.
Di tengah ancaman kembalinya perang skala penuh dan ketidakpastian pasar energi global, masyarakat sipil di Yaman tetap menjadi pihak yang paling rentan, menanggung dampak berkepanjangan dari krisis kemanusiaan yang mendalam.










