TVRINews – Jakarta
Jakarta Perkuat Diplomasi Perdagangan Lewat Aliansi Strategis Internasional
Seiring langkah strategis Indonesia memperluas kerja sama internasional. Sebagai episentrum ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, resmi bergabungnya Indonesia ke dalam aliansi BRICS menandai babak penting dalam memperkuat representasi negara-negara berkembang di kancah dunia.
Posisi tawar ini kian kokoh didukung oleh performa domestik yang solid, di mana Produk Domestik Bruto nasional pada tahun 2025 sukses menembus angka Rp23.821,1 triliun dengan pertumbuhan riil di level 5,11 persen.
Keterlibatan aktif Indonesia dalam blok ekonomi tersebut berakar dari fondasi perdagangan luar negeri yang kokoh, khususnya bersama pilar utama seperti Tiongkok dan India.
Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, nilai ekspor nonmigas nasional ke Tiongkok mendominasi dengan capaian US$ 66,96 miliar, disusul oleh India sebesar US$ 18,30 miliar.
Kontribusi signifikan juga disumbangkan melalui kemitraan dengan Uni Emirat Arab senilai US$ 4,02 miliar, Brasil di angka US$ 2,21 miliar, serta sejumlah negara anggota lainnya yang mencakup Mesir, Rusia, Afrika Selatan, Iran, hingga Etiopia.
Arus penanaman modal asing turut menjadi katalisator pertumbuhan, dengan total realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.931,2 triliun sepanjang tahun 2025. Singapura memimpin daftar investor asing dengan gelontoran dana sebesar US$ 17,4 miliar, diikuti oleh Hong Kong, Tiongkok senilai US$ 10,6 miliar, serta Tiongkok yang menanamkan modal sekitar US$ 7,5 miliar.
Agenda kolaborasi ini mencakup spektrum luas, mulai dari perluasan akses pasar, industrialisasi hilirisasi, penguatan manufaktur, percepatan infrastruktur, transisi energi, hingga digitalisasi rantai pasok global.
Transformasi struktural ekonomi nasional turut ditopang oleh kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta kebijakan hilirisasi domestik yang masif.
Indonesia kini memegang kendali strategis sebagai produsen terbesar nikel dan timah dunia, serta menempati posisi terdepan dalam cadangan global untuk komoditas pertambangan kritis.
Di sektor energi, cadangan terbukti gas alam nasional tercatat mencapai 34,78 triliun kaki kubik, memperkuat ketahanan pasokan jangka panjang. Sementara itu, sektor agrikultur ditopang oleh perkebunan kelapa sawit seluas 16,83 juta hektare yang menghasilkan sekitar 46,55 juta ton minyak sawit mentah pada tahun 2025.
Keunggulan teritorial maritim semakin melengkapi daya tarik geopolitik Indonesia di tingkat internasional. Dengan bentangan wilayah laut seluas 6,4 juta kilometer persegi dan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer, posisi geografis nusantara menjadi jalur vital perlintasan logistik dunia.
Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 40 persen lalu lintas maritim global melintasi perairan Indonesia, termasuk melalui Selat Malaka dan Selat Sunda. Sinergi antara kekuatan sumber daya alam, posisi silang strategis, dan ekspansi diplomasi ekonomi ini diyakini mampu membawa Indonesia memainkan peran sentral dalam arsitektur perdagangan masa depan Termasuk Pada Keberadaan Indonesia di KTT Brick di New Delhi ke 18 kali ini.










