TVRINews – Jakarta
Indonesia memperkuat posisi strategis sebagai perangkul kepentingan global melalui jejaring multilateral dari ASEAN hingga OECD.
Di tengah dinamika geopolitik global yang kian terfragmentasi, Indonesia terus memantapkan posisinya sebagai kekuatan penengah yang mempertemukan berbagai kepentingan lintas kawasan.
Melalui prinsip politik luar negeri yang independen dan aktif, Jakarta secara konsisten merajut kerja sama strategis, mulai dari tataran regional di Asia Tenggara hingga panggung perekonomian utama dunia.
Peran sebagai perangkul atau bridge-builder ini tecermin dari keaktifan Indonesia dalam berbagai forum internasional bergengsi. Selain menjadi motor penggerak di ASEAN, Indonesia merupakan anggota aktif G20, APEC, serta mitra utama OECD sejak 2007, sebelum resmi memulai proses aksesi pada awal tahun 2024 lalu.
Langkah komprehensif ini kian diperkuat dengan keterlibatan negara dalam kelompok ekonomi berkembang BRICS, yang berjalan selaras dengan komitmen menjaga stabilitas ekonomi global.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa seluruh jejaring multilateral tersebut dirancang untuk saling melengkapi. ASEAN difokuskan untuk memperkuat integrasi regional, G20 dan APEC menjadi wadah dialog ekonomi makro, sementara keterlibatan dalam BRICS membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan negara-negara berkembang utama demi mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Peluang Nyata Penguatan Ekonomi Domestik
Keikutsertaan aktif dalam berbagai aliansi global bukan sekadar diplomasi seremonial, melainkan instrumen nyata untuk menggerakkan sektor riil di dalam negeri. Sejumlah bidang konkret kini menjadi fokus utama pemerintah, mencakup ketahanan pangan, transisi energi, hingga hilirisasi mineral kritis.
Di sektor energi dan pangan, kolaborasi internasional berdasakan data Badan Komunikasi Pemerintahan RI, diarahkan pada modernisasi teknologi pertanian, optimalisasi rantai pasok global, serta pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi dan tenaga surya.
Sementara itu, kebijakan hilirisasi komoditas unggulan seperti nikel, tembaga, dan timah terus didorong melalui transfer teknologi serta penguatan industri kendaraan listrik nasional.
Langkah strategis juga merambah sektor pembiayaan pembangunan melalui keanggotaan Indonesia dalam New Development Bank (NDB) yang didirikan oleh negara-negara BRICS.
Kehadiran bank multilateral ini memberikan alternatif pembiayaan bagi proyek-proyek infrastruktur strategis, pengentasan kemiskinan, serta percepatan industrialisasi yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja baru.
Inovasi Keuangan dan Konektivitas Digital
Dari sudut pandang moneter dan perdagangan, Indonesia secara proaktif mengadopsi sistem keuangan modern yang adaptif. Implementasi konektivitas pembayaran lintas batas berbasis kode QR atau QRIS Cross-Border dengan Tiongkok yang diluncurkan pada April 2026, menjadi tonggak penting dalam mendongkrak sektor pariwisata, perdagangan bilateral, serta pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selain itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral terus didorong secara selektif guna meredam dampak volatilitas nilai tukar global. Penguatan pengaturan transaksi menggunakan Rupiah dan Yuan (RMB) termasuk penyediaan fasilitas kliring dan kesepakatan swap mencerminkan kehati-hatian sekaligus ketahanan sistem keuangan nasional dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.
Melalui pendekatan diplomasi ekonomi yang berimbang dan berorientasi hasil, Indonesia membuktikan kapasitasnya bukan sekadar sebagai partisipan, tetapi sebagai poros penting yang menjembatani masa depan tata kelola global yang lebih inklusif dan berkelanjutan.










