TVRINews – Teheran, Iran
Uji coba roket satelit Iran picu kekhawatiran global, diduga berkaitan dengan pengembangan rudal balistik pasca konflik berdarah dengan Israel.
Iran kembali membuat dunia waspada setelah berhasil melakukan uji coba roket peluncur satelit terbarunya, Qased, hanya beberapa pekan usai gencatan senjata dengan Israel. Uji coba ini menandai peluncuran pertama sejak konflik bersenjata 12 hari antara kedua negara pada Juni lalu, yang juga disusul oleh serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dikutip dari IRNA, kantor berita resmi Iran, peluncuran Qased dilakukan untuk "menilai teknologi baru yang berkembang di sektor luar angkasa Iran" serta menyempurnakan sistem satelit masa depan.
Namun, langkah Teheran ini tidak hanya berbau ilmiah. Di tengah sorotan tajam atas program rudal Iran dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, uji coba ini dinilai banyak pihak sebagai sinyal politik yang lantang.
“Iran tidak hanya meningkatkan kapabilitasnya, tapi juga mengirim pesan politik yang kuat,” ujar Sina Azodi, Dosen di Elliott School of International Affairs, kepada Newsweek.
Meskipun roket Qased dikenal sebagai peluncur satelit berbahan bakar campuran (solid dan cair), desain seperti ini identik dengan sistem rudal balistik. Peluncuran sebelumnya telah memicu kekhawatiran negara-negara Barat bahwa program luar angkasa Iran hanya kedok untuk memperluas kemampuan misilnya.
Bradley Bowman, Direktur Senior di Foundation for Defense of Democracies, memperingatkan bahwa kemampuan Iran dalam menempatkan sistem ke luar angkasa “dapat memperkuat kemampuan intelijen dan militer mereka secara signifikan, bahkan membuka jalan menuju rudal balistik antarbenua (ICBM).”
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, mantan Presiden AS Donald Trump kembali bersuara keras. Melalui platform Truth Social, ia menegaskan komitmennya untuk menghentikan program nuklir Iran dengan kekuatan militer jika diperlukan.
“Kami telah menghancurkan fasilitas pengayaan mereka, dan akan melakukannya lagi bila perlu!” tulis Trump, merespons wawancara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan Fox News, yang mengonfirmasi kerusakan akibat serangan AS pada 22 Juni.
Sementara itu, peluncuran Qased ini mempercepat langkah negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris dalam mempertimbangkan pemicu mekanisme "snapback" PBB untuk mengaktifkan kembali sanksi terhadap Iran. Diskusi ini dijadwalkan berlanjut dalam pertemuan di Istanbul pada Jumat (25/7) mendatang.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Jawaban Presiden Prabowo Terkait Data Pribadi RI Jadi Bagian Negosiasi Tarif Trump










