TVRINews – Astana
Pertemuan di Astana mengaktifkan kembali komite gabungan setelah satu dekade guna menyambut implementasi FTA.
Pemerintah Indonesia dan Republik Kazakhstan resmi menyepakati penguatan integrasi ekonomi melalui Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua yang berlangsung di Astana, Hal ini menandai kebangkitan mekanisme kerja sama bilateral kedua negara yang sempat vakum sejak tahun 2013.
Reaktivasi hubungan diplomatik-ekonomi ini menjadi krusial di tengah persiapan implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–EAEU FTA) yang telah ditandatangani akhir tahun lalu.
Saat ini, kedua negara tengah mempercepat proses ratifikasi untuk membuka jalur perdagangan tanpa hambatan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Kazakhstan bukan sekadar mitra, melainkan pintu gerbang utama bagi produk unggulan Indonesia menuju pasar Eurasia yang luas.
"Indonesia dan Kazakhstan memiliki sinergi pertumbuhan ekonomi yang solid. Dengan posisi Kazakhstan sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tengah, kita dapat bersama-sama memperluas pengaruh di kawasan regional," ujar Airlangga dalam keterangan resminya yang dikutip selasa 12 mei 2026.
Data menunjukkan Kazakhstan mencatatkan PDB sebesar USD 333,7 miliar dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5% pada tahun 2025.
Angka tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang signifikan bagi komoditas ekspor Indonesia seperti minyak kelapa sawit, produk mekanik, hingga buah tropis.
Transformasi Digital dan AI
Selain sektor perdagangan fisik, fokus pertemuan kali ini tertuju pada ekonomi masa depan. Deputi Perdana Menteri Kazakhstan, Serik Zhumangarin, mengungkapkan bahwa negaranya sedang melakukan revitalisasi besar-besaran, terutama di sektor teknologi.
"Presiden Kassym-Jomart Tokayev telah menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Digitalisasi dan Kecerdasan Artifisial (AI)," ungkap Zhumangarin.
Senada dengan hal tersebut, Indonesia juga terus memacu implementasi Peta Jalan AI Nasional 2020–2045. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan kemitraan institusional dalam pengembangan talenta digital melalui inisiatif seperti Alem.AI.
Konektivitas dan Pariwisata
Duta Besar RI untuk Kazakhstan, Fadjroel Rachman, turut menyoroti lonjakan interaksi antarmasyarakat yang signifikan. Tercatat, kunjungan wisatawan Kazakhstan ke Indonesia meningkat tajam dari 8.198 pada 2023 menjadi 24.424 kunjungan pada 2025.
Guna memastikan kerja sama ini memberikan dampak nyata bagi sektor swasta, Airlangga Hartarto mendorong pembentukan Indonesia–EAEU Business Council.
Dewan bisnis ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi para pelaku usaha untuk memaksimalkan konsesi perdagangan yang tertuang dalam FTA.
Pertemuan tingkat tinggi ini juga dihadiri oleh Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso dan perwakilan lintas kementerian, menegaskan komitmen Jakarta dalam memperkuat diversifikasi pasar non-tradisional di kancah internasional.










