TVRINews, Moskow
Moskow Ketatkan Ruang Udara: Waktu Terbang Maskapai Melonjak.
Otoritas penerbangan sipil Rusia, Rosaviatsia, secara resmi memangkas batas ketinggian maksimum penerbangan di sekitar wilayah Moskow menjadi 4.900 meter. Kebijakan darurat ini diambil atas permintaan Kementerian Pertahanan menyusul eskalasi serangan pesawat nirawak atau drone yang kian meningkat di wilayah udara ibu kota.
Regulasi baru tersebut berlaku bagi seluruh armada penerbangan sipil, eksperimental, maupun negara, baik yang dioperasikan oleh maskapai domestik Rusia maupun internasional. Pembatasan ini mencakup kawasan Kendali Terminal Moskow yang membawahi tiga bandara utama, yakni Sheremetyevo, Vnukovo, dan Domodedovo.
Sebelum kebijakan ini diterapkan, pesawat umumnya memasuki wilayah pendekatan Moskow pada kisaran ketinggian 8.250 hingga 8.550 meter. Dengan aturan baru, batas atas tersebut dipangkas drastis hingga sekitar 3.400 meter, memaksa pesawat terbang jauh lebih rendah demi mengantisipasi potensi ancaman keamanan.
Langkah taktis ini dirancang agar armada pesawat dapat melakukan pendaratan darurat dengan lebih cepat di bandara terdekat apabila terdeteksi ancaman keamanan mendadak di udara. Kendati demikian, terbang pada altitude yang lebih rendah membawa konsekuensi logistik yang tidak sedikit bagi maskapai penerbangan.
Pesawat membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai ketinggian jelajah yang efisien bahan bakar, yang secara langsung berdampak pada lonjakan konsumsi avtur.
Sejumlah pengamat industri penerbangan memperkirakan kebijakan ini akan memperpanjang durasi penerbangan antara 5 hingga 15 menit, sementara layanan transit yang harus mengubah jalur berisiko menghadapi penundaan hingga 30 menit.
Selain itu, para ahli penerbangan juga memperingatkan bahwa durasi terbang yang lebih lama di lapisan udara rendah dapat meningkatkan potensi risiko benturan dengan burung.
Sumber-sumber industri yang mengetahui proses pengambilan keputusan tersebut mengungkapkan kepada harian Kommersant Rabu 22 Juli 2026, bahwa pengetatan ini merupakan langkah preventif merespons ancaman serangan drone.
Rosaviatsia memberlakukan aturan ini sebagai instrumen pengamanan untuk menjaga keselamatan navigasi, dan pemberitahuan resmi pilot atau NOTAM tersebut diprediksi akan terus diperpanjang melampaui masa berlaku awalnya.
Kendati memicu efisiensi yang lebih rendah bagi industri aviasi, para pengamat menilai aturan baru ini masih lebih moderat dibandingkan penerapan prosedur darurat penuh yang dikenal sebagai rezim "Carpet".
Dalam prosedur darurat tersebut, otoritas biasanya harus mengosongkan seluruh wilayah udara dan menangguhkan aktivitas penerbangan secara total saat serangan terjadi.
Meski demikian, kalangan analis industri penerbangan meyakini bahwa pembatasan ketinggian ini kecil kemungkinan untuk dicabut sebelum konflik bersenjata di Ukraina benar-benar berakhir. Bahkan, regulasi serupa berpotensi diperluas ke berbagai wilayah lain di Rusia apabila ancaman keamanan terhadap infrastruktur vital tetap berlanjut di masa mendatang.










